-->

5 Hal tentang Serangan Hamas terhadap Israel


WASHINGTON, LELEMUKU.COM - Penguasa militan Hamas di Gaza secara mendadak pada Sabtu (7/10), menggempur Israel dari berbagai penjuru, baik udara, darat maupun laut. Jutaan warga Israel di bagian selatan negara itu terbangun karena suara roket dan dentuman yang tak terhindarkan. Sirene serangan udara meraung-raung hingga ke utara hingga Tel Aviv. Alat pencegat anti-roket Israel bergemuruh di Yerusalem.

Dalam eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasukan bersenjata Hamas meledakkan bagian dari pagar pemisah Israel yang dijaga ketat. Mereka menyerbu warga Israel di sepanjang perbatasan Gaza, meneror penduduk dan terlibat baku tembak dengan tentara Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sekutu sayap kanannya berusaha keras untuk merespons peristiwa yang berubah dengan cepat itu. Jumlah korban dengan cepat bertambah.

Rescue Service Zaka, sebuah kelompok Israel, mengatakan sedikitnya 200 orang tewas di Israel selatan dan 1.100 orang terluka.

Setidaknya 198 orang di Jalur Gaza tewas dan sedikitnya 1.610 orang terluka di tengah serangan balasan Israel.

Berikut adalah beberapa hal penting dalam serangan Hamas yang tiba-tiba menjerumuskan Israel dan Gaza ke dalam pertempuran.

Apakah Intelijen Israel Mengendus Penyerangan Sebelumnya?

Kejutan yang dirasakan warga Israel pada Sabtu (7/10) pagi – pada perayaan Simchat Torah, salah satu hari paling menggembirakan dalam kalender Yahudi – mengingatkan kembali kejutan perang Timur Tengah 1973. Lima dekade sebelumnya, serangan besar-besaran Mesir-Suriah yang dilakukan pada hari raya Yahudi dengan cepat berubah menjadi bencana bagi militer Israel yang saat itu tidak bersiaga.

Dulu, seperti sekarang, Israel berasumsi bahwa badan intelijennya akan mampu memberi bocoran kepada tentaranya tentang adanya potensi serangan atau invasi besar jauh sebelumnya. Kegagalan besar tersebut masih menghantui warisan Perdana Menteri saat itu, Golda Meir, dan mendorong runtuhnya kekuasaan lama Partai Buruh yang dulunya dominan.

Kini, pertanyaan tentang bagaimana para militan mampu melancarkan serangan yang begitu besar dan terkoordinasi tanpa memicu kekhawatiran intelijen Israel telah menjadi tantangan besar bagi para militan pemerintahan ultranasionalis Netanyahu. Gempuran Hamas kali ini menewaskan lebih banyak warga Israel dibandingkan serangan apa pun sejak pemberontakan Palestina kedua terjadi pada dua dekade lalu.

Para pendukung pemerintah memperkirakan Netanyahu dan para menteri garis keras yang memiliki sejarah retorika anti-Arab seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir akan mengambil sikap yang sangat agresif terhadap Palestina. Mereka diprediksi juga akan menanggapi ancaman dari militan di Gaza dengan lebih tegas.

Ketika para analis politik mengecam Netanyahu atas kegagalan tersebut, dan jumlah korban meningkat, Netanyahu menghadapi risiko kehilangan kendali atas pemerintahannya dan negaranya.

Bagaimana Hamas Dapat Melakukan Penyerangan?

Hamas mengklaim pasukannya berhasil menyandera beberapa warga Israel di daerah kantong tersebut. Mereka merilis video mengerikan. Mereka mengklaim perwira senior militer Israel termasuk di antara para tawanan.

Video-video tersebut tidak dapat segera diverifikasi tetapi terlihat sesuai dengan fitur geografis di wilayah tersebut. Kekhawatiran bahwa warga Israel telah diculik mengingatkan kita pada penangkapan tentara Gilad Shalit pada 2006. Para militan menangkap dia dalam serangan lintas perbatasan. Hamas menahan Shalit selama lima tahun sampai dia ditukar dengan lebih dari 1.000 tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.

Dalam serangan dramatis yang tidak pernah dilakukan selama beberapa dekade, Hamas juga mengirim pasukan paralayang ke wilayah Israel, kata militer Israel. Serangan yang berani itu mengingatkan pada serangan popular pada akhir 1980-an ketika militan Palestina menyeberang dari Lebanon ke utara Israel dengan menggunakan pesawat layang gantung dan membunuh enam tentara Israel.

Tentara Israel belum mengonfirmasi bahwa tentara dan warga sipil disandera di Gaza. Namun menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Serangan Terjadi Ketika Warga Israel Terbelah

Gempuran Hamas terjadi pada saat Israel mengalami masa-masa sulit. Pemerintah Israel tengah menghadapi protes terbesar dalam sejarahnya atas usulan Netanyahu untuk melemahkan Mahkamah Agung saat ia diadili karena korupsi.

Gerakan protes tersebut, yang menuduh Netanyahu melakukan perebutan kekuasaan, telah memecah belah masyarakat Israel dan menimbulkan kekacauan di dalam militer Israel. Ratusan tentara cadangan mengancam akan berhenti menjadi sukarelawan untuk bertugas sebagai protes atas perombakan sistem peradilan.

Pasukan cadangan adalah tulang punggung angkatan bersenjata Israel. Protes di dalam tubuh angkatan bersenjata meningkatkan kekhawatiran mengenai kekompakan militer, kesiapan operasional, dan kekuatan pencegahan ketika mereka menghadapi ancaman di berbagai bidang. Netanyahu pada Sabtu (7/10) menyerukan “mobilisasi pasukan cadangan secara ekstensif.”

Resolusi Apa yang Diharapkan?

Israel dan Hamas pernah mengalami empat kali perang dan saling baku tembak sejak kelompok militan Islam tersebut merebut kendali Gaza dari pasukan yang setia kepada Otoritas Palestina pada 2007. Gencatan senjata telah menghentikan pertempuran besar dalam konflik-konflik sebelumnya, tetapi selalu terbukti goyah.

Setiap perjanjian yang berhasil disepakati selalu memberikan masa tenang. Namun, permasalahan yang lebih dalam dan mendasar dari konflik tersebut jarang ditangani dan menjadi landasan bagi serangan udara dan roket berikutnya.

Dengan meningkatnya pengaruhnya dalam putaran ini, Hamas kemungkinan akan berusaha lebih keras untuk mencapai konsesi mengenai isu-isu utama, seperti mengurangi blokade dan memenangkan pembebasan tahanan yang ditahan oleh Israel. (VOA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel



Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com selain "" di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Iklan Bawah Artikel