Profil Lengkap Sulawesi Tenggara, Bumi Anoa dengan Kekayaan Alam dan Budaya
KENDARI, LELEMUKU.COM – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terletak di jazirah tenggara Pulau Sulawesi dengan ibu kota di Kota Kendari, memiliki luas daratan 38.140 kilometer persegi dan perairan laut 110.000 kilometer persegi, serta jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2025 mencapai 2.848.747 jiwa, menjadikannya provinsi yang dikenal dengan julukan Bumi Anoa dan Wonua Sorume (Bumi Anggrek) karena kekayaan flora dan fauna khas yang dimilikinya.
Secara geografis, Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, antara 2 derajat 45 menit hingga 6 derajat 15 menit Lintang Selatan dan 120 derajat 45 menit hingga 124 derajat 30 menit Bujur Timur. Di sebelah utara, provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Di sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda. Di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores, dan di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan.
Wilayahnya terdiri dari 15 kabupaten dan 2 kota, yaitu Kota Kendari dan Kota Baubau, dengan 219 kecamatan, 377 kelurahan, dan 1.915 desa. Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.700 kilometer dengan total wilayah laut mencapai 110.000 kilometer persegi.
Motto provinsi ini adalah "Inae Konasara Iye Pinesara Inae Liasara Iye Pinekasara" yang dalam bahasa Tolaki berarti "Barang siapa yang menghargai tradisi kami, maka ia kami muliakan. Namun, barang siapa yang tidak menghargai tradisi kami maka ia kami tidak muliakan".
Sejarah Panjang: Dari Kabupaten hingga Provinsi Mandiri
Sulawesi Tenggara awalnya merupakan nama salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) dengan ibu kota kabupaten di Baubau. Pada tahun 1952, Sulawesi Tenggara masih berstatus sebagai Kabupaten (Daerah Tingkat II) yang meliputi empat wilayah kewedanaan, yaitu Buton, Kendari, Muna, dan Kolaka. Pada tahun 1960, kabupaten ini dimekarkan menjadi empat Daerah Tingkat II.
Perjuangan untuk menjadi provinsi sendiri membutuhkan usaha keras dari para tokoh daerah. Pada tanggal 17 Februari 1957, tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda, dan pelajar asal Sulawesi Timur yang menetap di Makassar mengadakan rapat di Gedung SMEP Negeri untuk menuntut pemekaran wilayah. Tuntutan ini akhirnya membuahkan hasil ketika Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai Daerah Otonom berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964 juncto Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 27 April 1964, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi provinsi.
Pada awal pembentukannya, Provinsi Sulawesi Tenggara hanya terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Kendari, Kolaka, Muna, dan Buton, serta Kota Baubau sebagai ibu kota provinsi. Namun, karena berbagai pertimbangan, ibu kota provinsi kemudian dipindahkan ke Kendari. Gubernur pertama Sulawesi Tenggara adalah J. Wayong, yang menjabat dari 27 April 1964 hingga 18 Juli 1965. Setelah melalui berbagai periode kepemimpinan, provinsi ini terus berkembang dengan pemekaran wilayah menjadi 15 kabupaten dan 2 kota seperti yang ada saat ini. Pada tahun 2022, dasar hukum pendirian provinsi ini diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2022.
Keanekaragaman Suku, Agama, dan Bahasa
Sulawesi Tenggara dihuni oleh empat kelompok etnik asli, yaitu Buton, Muna, Tolaki, dan Moronene. Suku Tolaki merupakan etnis yang berdiam di jazirah tenggara Pulau Sulawesi dan diperkirakan telah ada bahkan sebelum masa kerajaan di Indonesia. Bahasa Tolaki dituturkan di Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Utara, dan Konawe Selatan. Suku Wolio tersebar di Buton, Muna, dan Kabaena. Suku Limakawatina merupakan suku unik lainnya yang berasal dari Pulau Buton, banyak bermukim di kawasan lembah-lembah hutan belantara antara Gunung Ngkamelu dan Gunung Kamosope. Selain itu, etnik Bugis-Makassar merupakan pendatang terbanyak yang telah lama menetap di daerah ini sejak masa kerajaan-kerajaan tradisional, sehingga sudah sulit memisahkan mereka dengan etnik asli.
Mayoritas penduduk Sulawesi Tenggara memeluk agama Islam dengan persentase mencapai 95,82 persen. Agama Kristen Protestan dianut oleh 1,65 persen penduduk, Kristen Katolik 0,60 persen, Hindu 1,88 persen, dan Buddha 0,05 persen. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi, sementara bahasa daerah yang dominan adalah bahasa Tolaki, Wolio, Muna, dan Buton. Keberagaman budaya ini tercermin dalam berbagai kesenian tradisional, seperti tarian daerah, musik, dan pakaian adat. Pakaian adat suku Tolaki dikenal dengan nama Babu Nggawi, sementara senjata tradisionalnya adalah Parang Taawu atau Mosehe.
Pertumbuhan Ekonomi dan Sektor Unggulan
Perekonomian Sulawesi Tenggara menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan I tahun 2026, provinsi ini berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,23 persen secara tahunan (year-on-year), melanjutkan tren pemulihan yang konsisten sejak masa pandemi. Secara kumulatif hingga akhir tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,65 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan I 2026 mencapai Rp52,55 triliun atas dasar harga berlaku.
Tulang punggung ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 23,34 persen PDRB, disusul oleh sektor pertambangan (20,12 persen) dan perdagangan (13,04 persen). Sektor konstruksi serta pertambangan dan penggalian menjadi kontributor utama pertumbuhan. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,14 persen pada triwulan I 2026, mengindikasikan mulai menggeliatnya sektor pariwisata dan konsumsi domestik.
Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sektor pertambangan menjadi penopang utama ekspor daerah, dengan nilai ekspor mencapai Rp32,7 triliun, di mana 99,92 persen disumbangkan oleh sektor pertambangan. Komoditas tambang utama meliputi nikel, aspal, dan emas. Sektor pertanian dan perkebunan juga menjadi andalan dengan komoditas seperti beras, kakao, jahe, lada, cengkeh, dan kacang mede. Produksi kakao mencapai 15.000 ton per tahun, sementara produksi perikanan tangkap sekitar 10.000 ton. Pemerintah provinsi terus mendorong diversifikasi ekspor non-tambang guna memperkuat struktur ekonomi daerah.
Indikator makro ekonomi menunjukkan perbaikan. Inflasi tahunan berada pada level 2,86 persen yang mencerminkan daya beli relatif terjaga. Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 101,64 pada Mei 2026, sementara Nilai Tukar Nelayan (NTN) meningkat menjadi 105,03, mengindikasikan daya beli pelaku usaha sektor primer mulai membaik. Tingkat kemiskinan terus menurun, kini berada di angka 10,14 persen atau sekitar 295 ribu jiwa (September 2025). Namun, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat naik ke 3,25 persen pada Februari 2026, dengan pengangguran di perkotaan yang lebih tinggi dibandingkan perdesaan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2024 mencapai 73,62, meningkat 0,68 poin (0,93 persen) dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 72,94. Selama periode 2020-2024, IPM Sulawesi Tenggara rata-rata meningkat sebesar 0,69 persen per tahun. Seluruh dimensi pembentuk IPM mengalami peningkatan, terutama standar hidup layak dan pengetahuan.
Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, bayi yang lahir pada tahun 2024 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,88 tahun. Pada dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah penduduk umur 7 tahun mencapai 13,71 tahun, sementara rata-rata lama sekolah penduduk umur 25 tahun ke atas mencapai 9,42 tahun pada tahun 2024. Angka IPM yang terus meningkat ini mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Potensi Pariwisata dan Konektivitas
Sulawesi Tenggara memiliki potensi pariwisata yang besar, dengan kekayaan alam bawah laut, pantai, dan budaya yang beragam. Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan yang telah dikenal di tingkat internasional. Pada 16 Juli 2026, telah dibuka penerbangan menggunakan pesawat jet TransNusa untuk rute Wakatobi-Bali pulang pergi, yang menjadi langkah besar mengatasi tantangan utama pengembangan pariwisata Wakatobi yaitu akses transportasi. Selain Wakatobi, terdapat pula destinasi wisata seperti Danau Biru di Kolaka Utara, Pantai Nirwana di Bau-Bau, serta berbagai objek wisata bahari lainnya di Kabupaten Buton dan Muna.
Kota Kendari dilayani oleh Bandara Haluoleo yang terus melakukan renovasi fasilitas dan sarana prasarana untuk meningkatkan pelayanan dan mendukung pengembangan pariwisata serta investasi. Kota Baubau dilayani oleh Bandara Betoambari, yang terhubung dengan berbagai maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.
Dengan kekayaan alam, keanekaragaman budaya, pertumbuhan ekonomi yang solid, dan potensi pariwisata yang besar, Provinsi Sulawesi Tenggara terus bergerak maju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memantapkan posisinya sebagai salah satu provinsi paling berpengaruh di Indonesia Timur. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
.png)