Profil Lengkap Sulawesi Selatan, Bumi Toddo'puli dengan Sejarah dan Budaya yang Kaya

Profil Lengkap Sulawesi Selatan, Bumi Toddo'puli dengan Sejarah dan Budaya yang Kaya

MAKASSAR, LELEMUKU.COM – Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di semenanjung bagian selatan Pulau Sulawesi dengan ibu kota di Kota Makassar, memiliki luas wilayah 46.717,48 kilometer persegi dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2024 mencapai 9.460.344 jiwa, menjadikannya provinsi terpadat di Pulau Sulawesi dengan kontribusi sekitar 46 persen dari total populasi pulau tersebut serta provinsi terpadat keenam di Indonesia secara nasional.

Provinsi Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada posisi strategis antara 0 derajat 12 menit hingga 8 derajat Lintang Selatan dan 116 derajat 48 menit hingga 122 derajat 36 menit Bujur Timur. Di sebelah utara, provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat. Di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Bone dan Provinsi Sulawesi Tenggara. Di sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores. Wilayahnya terdiri dari 21 kabupaten dan 3 kota, dengan total 313 kecamatan, 793 kelurahan, dan 2.266 desa atau lembang. Beberapa kabupaten dan kota yang terkenal antara lain Kabupaten Bone, Gowa, Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Pinrang, Sidenreng Rappang, Soppeng, Takalar, Toraja Utara, Wajo, serta Kota Parepare dan Kota Palopo.

Sejarah Panjang: Dari Kerajaan Kuno hingga Sulawesi Selatan Modern

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Sulawesi Selatan terdiri atas sejumlah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami oleh empat etnis utama, yaitu Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas, yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, dan Kerajaan Bone, yang pada abad ke-16 dan ke-17 mencapai puncak kejayaannya. Ketiga kerajaan ini telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa, India, Tiongkok, Melayu, dan Arab, menjadikan Sulawesi Selatan sebagai pusat perdagangan dan pertukaran budaya di Nusantara.

Kerajaan Gowa yang berpusat di Makassar merupakan salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara pada abad ke-16. Kerajaan ini menerima agama Islam pada tahun 1605 dan berkembang menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah timur Indonesia. Perdagangan rempah-rempah yang ramai menjadikan Makassar sebagai pelabuhan yang sangat penting, menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa.

Pada abad ke-17, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) mulai beroperasi di wilayah tersebut. VOC kemudian bersekutu dengan Arung Palakka dari Kerajaan Bone dan bersama-sama mengalahkan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar (1666-1669). Setelah kekalahan tersebut, Raja Gowa Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun 1667 yang sangat mengurangi kekuasaan Gowa. Kerajaan Bone kemudian menjadi kerajaan dominan di Sulawesi Selatan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1950 yang menjadikan Sulawesi Selatan sebagai provinsi administratif Sulawesi. Pada tahun 1960, berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1960, wilayah ini menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara. Pemisahan Sulawesi Selatan dari Sulawesi Tenggara kemudian ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964, sehingga Sulawesi Selatan resmi menjadi daerah otonom provinsi tersendiri.

Keanekaragaman Suku, Agama, dan Bahasa

Sulawesi Selatan dihuni oleh beragam suku bangsa, mencerminkan kekayaan budaya yang luar biasa. Berdasarkan data, Suku Bugis merupakan kelompok etnis terbesar dengan persentase sekitar 45,12 persen, diikuti oleh Suku Makassar sebesar 29,68 persen, Suku Toraja 7,34 persen, dan lainnya 17,86 persen. Keberagaman suku ini menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan budaya paling tinggi di Indonesia. Suku Bugis terkenal sebagai pelaut ulung yang telah menjelajahi lautan Nusantara hingga ke Australia dan Madagaskar. Suku Makassar dikenal sebagai pedagang yang tangguh. Suku Toraja terkenal dengan upacara pemakaman yang unik dan rumah adat Tongkonan.

Mayoritas penduduk Sulawesi Selatan memeluk agama Islam, dengan persentase sekitar 88,33 persen. Agama Kristen Protestan dianut oleh 8,11 persen penduduk, Kristen Katolik 2,25 persen, Hindu 1,02 persen, Buddha 0,25 persen, dan Konghucu 0,04 persen. Data dari Kementerian Agama pada tahun 2024 menunjukkan jumlah pemeluk Islam mencapai 8.530.712 jiwa atau 90,14 persen, Protestan 693.021 jiwa (7,32 persen), Katolik 150.891 jiwa (1,59 persen), Hindu 63.908 jiwa (0,68 persen), Buddha 19.768 jiwa (0,21 persen), dan Konghucu 75 jiwa.

Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi, sementara bahasa daerah yang dominan adalah bahasa Bugis dan Makassar. Bahasa Melayu Makassar juga digunakan sebagai lingua franca di wilayah ini. Keberagaman bahasa ini mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah panjang interaksi antaretnis di Sulawesi Selatan.

Pertumbuhan Ekonomi dan Sektor Unggulan

Perekonomian Sulawesi Selatan menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Pada triwulan III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan mencapai 5,01 persen secara tahunan. Kota Makassar sebagai ibu kota provinsi menjadi pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan jasa terbesar di Sulawesi Selatan. Pelabuhan Makassar dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi pintu gerbang utama perdagangan dan transportasi.

Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Komoditas unggulan dari sektor pertanian antara lain padi, jagung, kakao, dan kelapa sawit. Sulawesi Selatan juga merupakan salah satu penghasil perikanan terbesar di Indonesia, dengan hasil tangkapan laut yang melimpah di Selat Makassar dan Laut Flores. Sektor industri pengolahan, terutama pengolahan hasil pertanian dan perikanan, juga memberikan kontribusi yang signifikan.

Indeks Pembangunan Manusia dan Kesejahteraan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 mencapai 75,18, meningkat 0,58 poin atau 0,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 74,60. IPM Sulawesi Selatan termasuk dalam kategori tinggi. Peningkatan IPM terjadi pada semua dimensi, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Dimensi umur panjang dan hidup sehat menunjukkan harapan hidup bayi yang lahir pada tahun 2024 mencapai 73,83 tahun, meningkat 0,20 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Dimensi pengetahuan menunjukkan harapan lama sekolah meningkat menjadi 13,55 tahun dan rata-rata lama sekolah menjadi 8,86 tahun. Dimensi standar hidup layak meningkat sebesar 434 ribu rupiah atau 3,67 persen.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada tahun 2025, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, meluncurkan empat program strategis di bidang kesehatan, yaitu Aksi Stop Stunting (ASS), Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB), dan program-program lainnya untuk meningkatkan IPM dan kesejahteraan masyarakat.

Potensi Pariwisata dan Budaya

Sulawesi Selatan memiliki potensi pariwisata yang sangat besar, dengan kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang beragam. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Kabupaten Maros dan Pangkep terkenal dengan keindahan gua-gua dan air terjunnya yang memukau. Pantai-pantai di Kabupaten Bulukumba, Takalar, dan Selayar menawarkan keindahan pantai yang masih alami. Danau Tempe di Kabupaten Wajo merupakan danau terbesar di Sulawesi Selatan yang menjadi habitat berbagai jenis burung air.

Wisata budaya Toraja di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara menjadi daya tarik utama. Upacara pemakaman Rambu Solo, rumah adat Tongkonan, dan pemandangan alam yang indah menjadi destinasi wisata yang sangat populer, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, berbagai festival budaya seperti Festival Bugis-Makassar dan Festival Seni dan Budaya Toraja juga digelar secara rutin.

Transportasi dan Konektivitas

Kota Makassar dilayani oleh Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin yang melayani penerbangan dari dan ke berbagai kota besar di Indonesia dan beberapa negara tetangga. Pelabuhan Makassar menjadi pelabuhan utama yang melayani kapal-kapal kargo dan penumpang antar pulau dan internasional. Transportasi darat menghubungkan Makassar dengan kabupaten-kabupaten di Sulawesi Selatan dan provinsi-provinsi tetangga melalui jaringan jalan lintas Sulawesi yang terus ditingkatkan kualitasnya. Jalan tol Makassar-Sungguminasa, Makassar-Maros, dan Makassar-Parepare juga telah dibangun untuk meningkatkan konektivitas dan memperlancar arus barang dan jasa.

Dengan kekayaan sejarah, keanekaragaman budaya, sumber daya alam yang melimpah, dan potensi pariwisata yang besar, Provinsi Sulawesi Selatan terus bergerak maju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memantapkan posisinya sebagai salah satu provinsi paling berpengaruh di Indonesia Timur. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya