Profil Lengkap Papua Selatan, Provinsi Termuda dengan Julukan Anim Ha

Profil Lengkap Papua Selatan, Provinsi Termuda dengan Julukan Anim Ha

MERAUKE, LELEMUKU.COM – Provinsi Papua Selatan yang terletak di bagian selatan Pulau Papua dengan ibu kota di Salor, Kabupaten Merauke, memiliki luas wilayah 117.833,92 kilometer persegi dan jumlah penduduk pada akhir tahun 2025 mencapai 588.837 jiwa, menjadikannya provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit di Indonesia serta satu-satunya provinsi yang dikenal dengan sebutan Anim Ha, yang berarti wilayah adat di bagian selatan Papua.

Provinsi Papua Selatan secara geografis terletak pada dataran rendah yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini di sebelah timur. Di sebelah utara, provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Papua Pegunungan. Di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Papua Tengah, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafuru. 

Wilayahnya memiliki banyak rawa-rawa dan sungai besar seperti Sungai Digul dan Sungai Maro yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat. Provinsi ini juga memiliki garis pantai yang panjang dengan potensi perikanan yang melimpah.

Sejarah Panjang: Dari Perjuangan 20 Tahun Menjadi Provinsi ke-38

Provinsi Papua Selatan merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Papua yang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2022 tentang Pembentukan Provinsi Papua Selatan pada tanggal 25 Juli 2022. Provinsi ini diresmikan bersamaan dengan dua provinsi baru lainnya, yaitu Papua Pegunungan dan Papua Tengah, pada 11 November 2022, yang sekaligus menggenapkan jumlah provinsi di Indonesia menjadi 38.

Perjuangan untuk menjadikan Papua Selatan sebagai provinsi tersendiri telah berlangsung sejak tahun 2002 dan kembali diajukan pada tahun 2020. Pemekaran provinsi Papua Selatan awalnya direncanakan akan terdiri atas lima kabupaten, yaitu Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Merauke. Namun, atas dasar pertimbangan letak wilayah, Kabupaten Pegunungan Bintang kemudian memilih untuk tidak bergabung.

Wilayah Administratif dan Pemerintahan

Provinsi Papua Selatan terdiri dari empat kabupaten dan tidak memiliki kota. Keempat kabupaten tersebut adalah Kabupaten Merauke, Kabupaten Asmat, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi. Secara administratif, provinsi ini terbagi menjadi 74 distrik, 13 kelurahan, dan 674 kampung.

Ibu kota provinsi ini berada di Salor, yang merupakan bagian dari Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Merauke. Kawasan Salor disiapkan sebagai pusat pengembangan pangan, riset pertanian, dan pendidikan vokasi.

Provinsi ini saat ini dipimpin oleh Gubernur Apolo Safanpo dan Wakil Gubernur Paskalis Imadawa yang menjabat periode 2025-2030. Sekretaris Daerah dijabat oleh Ferdinandus Kainakaimu, sementara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua Selatan adalah Heribertus Silvinus Silubun.

Keragaman Suku, Bahasa, dan Budaya

Papua Selatan dihuni oleh beragam suku asli yang mendiami tepian sungai dan pantai, antara lain Suku Marind, Asmat, Kombay, Koroway, Muyu, serta suku-suku lainnya. Suku-suku di Papua Selatan termasuk dalam wilayah adat Anim Ha, yang merupakan salah satu dari empat wilayah adat di Papua bersama dengan Tabi, La Pago, dan Domberai. Mereka umumnya menggunakan perahu dayung untuk mobilitas sehari-hari dan membuat ukiran-ukiran kayu, terutama Suku Asmat yang terkenal dengan seni ukirnya yang mendunia.

Mayoritas penduduk Papua Selatan memeluk agama Kristen dengan persentase sekitar 74,02 persen, terdiri dari Katolik 50,52 persen dan Protestan 23,50 persen. Agama Islam dianut oleh 25,85 persen penduduk, sementara Hindu 0,09 persen dan Buddha 0,04 persen. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi, sementara bahasa daerah yang dominan adalah Awyu, Asmat, Citak, Jawa, Kolopom, Korowai, Marind, Morori, Mombum, Muyu, dan Wambon.

Sumber Daya Alam dan Perekonomian

Papua Selatan memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Hasil bumi seperti sagu dan ikan menghidupi masyarakat di tepian sungai dan pantai. Provinsi ini juga memiliki Taman Nasional Wasur yang memiliki kekayaan hayati yang tinggi, seperti walabi, musamus atau rumah semut raksasa, dan cenderawasih.

Perekonomian Papua Selatan pada tahun 2025 mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp35,69 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp19,71 triliun, dengan PDRB per kapita mencapai Rp64,93 juta atau setara US$3.941,02. Secara tahunan, ekonomi Papua Selatan tumbuh 3,39 persen, didorong terutama oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 4,67 persen serta komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang meningkat 3,33 persen. Pada triwulan IV-2025, ekonomi tumbuh 3,35 persen dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 6,81 persen.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Selatan pada tahun 2025 mencapai 69,54 yang termasuk dalam kategori sedang. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun 2022 yang baru mencapai 62 persen, mencerminkan upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat. Meskipun masih menghadapi tantangan, pemerintah provinsi terus berupaya mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Potensi Pariwisata dan Keindahan Alam

Papua Selatan memiliki potensi pariwisata yang besar, dengan kekayaan alam dan budaya yang masih sangat alami. Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke merupakan salah satu destinasi wisata unggulan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Ekosistem rawa-rawa dan hutan bakau menjadi habitat berbagai jenis burung, termasuk cenderawasih, serta satwa khas Papua lainnya seperti walabi. Musamus atau rumah semut raksasa yang menjadi ikon provinsi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Budaya masyarakat Asmat yang terkenal dengan seni ukir kayu dan patungnya yang mendunia menjadi daya tarik budaya yang kuat. Festival budaya seperti Festival Asmat dan berbagai upacara adat masih dilestarikan hingga saat ini. Selain itu, keindahan pantai di sepanjang pesisir selatan Papua juga menawarkan pengalaman wisata bahari yang masih perawan.

Transportasi dan Konektivitas

Sebagai provinsi yang baru dimekarkan, akses transportasi masih menjadi tantangan utama. Kabupaten Merauke sebagai pusat ekonomi dilayani oleh Bandar Udara Mopah yang menghubungkan wilayah ini dengan kota-kota lain di Papua dan Indonesia. Pelabuhan-pelabuhan kecil di sepanjang pesisir selatan menjadi pintu masuk jalur laut yang menghubungkan Papua Selatan dengan berbagai wilayah di Indonesia. Transportasi sungai melalui Sungai Digul dan Sungai Maro menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat di pedalaman yang mengandalkan perahu dayung dan perahu motor.

Pemerintah provinsi terus berupaya meningkatkan infrastruktur transportasi, terutama pembangunan jalan yang menghubungkan antar kabupaten dan akses ke daerah-daerah terpencil, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kawasan Salor yang menjadi pusat pemerintahan juga terus dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan baru di Papua Selatan dengan dukungan program transmigrasi dan pengembangan pertanian.

Dengan kekayaan alam, keanekaragaman budaya, dan semangat pembangunan yang terus digalakkan, Provinsi Papua Selatan terus bergerak maju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memantapkan posisinya sebagai salah satu provinsi dengan potensi besar di Indonesia Timur. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya