Profil Lengkap Nusa Tenggara Barat, Provinsi Kepulauan dengan Kekayaan Budaya dan Pariwisata
MATARAM, LELEMUKU.COM – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di bagian tengah Kepulauan Nusa Tenggara dengan ibu kota di Kota Mataram, memiliki luas wilayah 19.675,89 kilometer persegi dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2024 mencapai 5.666.314 jiwa, serta dikenal sebagai provinsi kepulauan yang terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dengan kekayaan budaya, tradisi, dan potensi pariwisata yang mendunia.
Provinsi Nusa Tenggara Barat secara geografis terletak pada posisi strategis di antara Provinsi Bali di sebelah barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur di sebelah timur. Di sebelah utara, provinsi ini berbatasan dengan Laut Jawa dan Laut Flores. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia. Wilayahnya terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Lombok dengan luas 4.738,70 kilometer persegi dan Pulau Sumbawa dengan luas 15.414,50 kilometer persegi. Provinsi ini juga memiliki sekitar 421 pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Secara administratif, Provinsi Nusa Tenggara Barat terbagi menjadi 8 kabupaten dan 2 kota. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima, serta dua kota yaitu Kota Mataram dan Kota Bima. Ibu kota provinsi ini berada di Kota Mataram yang terletak di Pulau Lombok.
Sejarah Panjang: Dari Provinsi Sunda Kecil Menuju NTB
Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Nusa Tenggara Barat termasuk dalam wilayah Provinsi Sunda Kecil yang beribu kota di Singaraja. Provinsi Sunda Kecil kemudian dibagi menjadi tiga provinsi, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi dibentuk pada tanggal 17 Desember 1958 berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958. Pada masa Negara Republik Indonesia Serikat (RIS), wilayah ini merupakan bagian dari Negara Indonesia Timur, kemudian menjadi bagian dari Provinsi Sunda Kecil setelah pengakuan kedaulatan.
Kota Mataram ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Desember 1958, dengan wali kota pertamanya adalah Lalu Mudjitahid. Secara administratif, Mataram menjadi kota otonom melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1993. Nama Mataram sendiri memiliki sejarah yang panjang, terkait dengan Kerajaan Mataram Islam di Jawa yang pernah mengirimkan pasukan ke Lombok.
Keanekaragaman Suku, Agama, dan Bahasa
Nusa Tenggara Barat dihuni oleh tiga suku asli utama, yaitu Suku Sasak di Pulau Lombok, Suku Samawa di Sumbawa Besar, dan Suku Mbojo di Bima dan Dompu. Nama "Sasambo" sendiri merupakan gabungan dari ketiga suku tersebut, yang menjadi identitas budaya NTB. Suku Sasak merupakan suku terbesar dengan populasi lebih dari setengah total jumlah penduduk Nusa Tenggara Barat. Selain itu, terdapat pula suku Bali yang mendiami beberapa wilayah di Lombok.
Mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat memeluk agama Islam dengan persentase sekitar 96,89 persen. Agama Hindu dianut oleh 2,38 persen penduduk, Kristen 0,43 persen (Protestan 0,25 persen dan Katolik 0,18 persen), dan Buddha 0,30 persen. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi, sementara bahasa daerah yang dominan adalah bahasa Sasak di Lombok, bahasa Sumbawa di Sumbawa, dan bahasa Bima (Mbojo) di Bima dan Dompu.
Demografi dan Indeks Pembangunan Manusia
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, laju pertumbuhan penduduk Nusa Tenggara Barat mencapai 1,58 persen per tahun. Persentase penduduk lanjut usia meningkat dari 8,21 persen pada tahun 2020 menjadi 9,72 persen pada tahun 2025, yang menandakan provinsi ini mulai mendekati fase ageing population. Kepadatan penduduk provinsi ini mencapai sekitar 280 jiwa per kilometer persegi.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025 mencatat percepatan pertumbuhan pada seluruh dimensi, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Angka kemiskinan turun menjadi 11,78 persen pada Maret 2025, inflasi terkendali di 2,96 persen, dan angka stunting menurun dari 37,85 persen (2019) menjadi 29,8 persen (2024).
Pertumbuhan Ekonomi dan Sektor Unggulan
Perekonomian Nusa Tenggara Barat menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan yang stabil. Pada Triwulan III tahun 2025, ekonomi NTB tumbuh 2,82 persen secara tahunan (y-on-y). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada Triwulan III-2025 mencapai Rp49,49 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp28,92 triliun. Pada Triwulan IV tahun 2025, PDRB mencapai Rp52,04 triliun dengan pertumbuhan 12,49 persen (y-on-y) yang didorong oleh akselerasi Industri Pengolahan sebesar 137,78 persen.
Sektor-sektor utama yang menopang perekonomian NTB antara lain industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan pariwisata. Sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung dengan total luas panen padi tahun 2025 diperkirakan mencapai 322,50 ribu hektar. Neraca perdagangan NTB sepanjang tahun 2025 mencapai US$400,31 juta. Realisasi investasi pada paruh pertama 2025 mencapai Rp28,8 triliun atau 47,2 persen dari target tahunan sebesar Rp61,09 triliun.
Potensi Pariwisata yang Mendunia
Nusa Tenggara Barat memiliki potensi pariwisata yang sangat besar dan telah dikenal di kancah internasional. Pulau Lombok dikenal dengan ikon wisata Gunung Rinjani, Gili Trawangan, dan Pantai Senggigi. Sementara Pulau Sumbawa menawarkan pesona Pantai Maluku dan Gunung Tambora. NTB juga meraih predikat Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) tahun 2019 dan 2023, dan pada tahun 2025 menempati peringkat ketiga nasional.
Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat menargetkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa selama tahun 2025 mencapai 2,5 juta orang. Sebanyak 58 agenda pariwisata disiapkan sepanjang tahun 2025, mencakup festival budaya, ajang olahraga internasional, serta berbagai kegiatan berbasis ekowisata dan kearifan lokal. Beberapa event unggulan yang menjadi ikon pariwisata NTB antara lain Festival Bau Nyale di Pantai Seger, MotoGP Mandalika, MXGP Indonesia, Pesona Khazanah Ramadhan, dan Festival Rimpu Mantika di Bima.
Transportasi dan Konektivitas
Konektivitas antar pulau di Nusa Tenggara Barat terus ditingkatkan untuk mendukung pariwisata dan logistik. Lintasan penyeberangan Kayangan–Pototano yang menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa telah melayani 889.682 penumpang dan 252.973 unit kendaraan. Kota Mataram sebagai ibu kota provinsi dilayani oleh Bandar Udara Internasional Lombok (Zainuddin Abdul Madjid) yang melayani penerbangan dari dan ke berbagai kota besar di Indonesia dan mancanegara. Kota Bima di Pulau Sumbawa juga dilayani oleh Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin.
Dengan kekayaan alam, keanekaragaman budaya, dan potensi pariwisata yang terus berkembang, Provinsi Nusa Tenggara Barat terus bergerak maju untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memantapkan posisinya sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
.png)