Benteng Marlborough Bengkulu, Peninggalan Kolonial Inggris Terbesar di Asia Tenggara
BENGKULU, LELEMUKU.COM – Di tepi Samudra Hindia yang luas, berdiri sebuah bangunan kokoh yang telah menyaksikan pergantian kekuasaan selama lebih dari tiga abad. Benteng Marlborough di Kota Bengkulu bukan sekadar tumpukan batu bata tua peninggalan zaman kolonial, melainkan warisan sejarah yang menyimpan kisah panjang tentang perebutan hegemoni dagang antara kekuatan-kekuatan besar Eropa di Nusantara.
Pembangunan Benteng Marlborough dimulai pada 1713 dan selesai sekitar 1719 di bawah komando East India Company atau EIC, kongsi dagang Inggris yang kala itu mendominasi perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia.
Keputusan membangun benteng raksasa ini didasari oleh ambisi Inggris menjadikan Bengkulu sebagai pusat perdagangan lada utama sekaligus benteng pertahanan setelah mereka terusir dari Banten. Nama benteng ini diabadikan dari John Churchill, Duke of Marlborough, salah satu tokoh militer paling terkenal dalam sejarah Inggris.
Keunggulan Benteng Marlborough terletak pada desain arsitekturnya yang revolusioner untuk zamannya. Benteng ini mengadopsi sistem benteng bintang khas Eropa abad ke-17, dengan empat sudut menonjol berbentuk panah yang disebut bastion. Jika dilihat dari udara, bentuknya menyerupai kura-kura raksasa yang menghadap Samudra Hindia.
Desain ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi pertahanan yang canggih karena setiap bastion dapat melindungi bastion di sebelahnya sekaligus memberikan daya tembak silang yang efektif terhadap musuh dari segala arah.
Di dalam kompleks benteng, pengunjung dapat menjelajahi lorong-lorong gelap rahasia yang menghubungkan antar bastion, ruang tahanan bawah tanah dengan jeruji besi yang masih otentik, gudang mesiu, hingga rumah komandan yang menjadi pusat administrasi EIC selama lebih dari satu abad.
Perjalanan kepemilikan benteng ini mencerminkan dinamika politik kolonial yang kompleks. Pada 1824, melalui Perjanjian London, Inggris menyerahkan seluruh asetnya di Sumatera termasuk benteng ini kepada Belanda sebagai kompensasi atas Malaka. Pada masa pendudukan Jepang, benteng ini sempat difungsikan sebagai markas militer sebelum akhirnya beralih ke tangan Pemerintah Republik Indonesia dan dijadikan warisan budaya nasional.
Bagi wisatawan masa kini, Benteng Marlborough menawarkan pengalaman yang melampaui kunjungan museum biasa. Dari dinding pertahanan bagian atas, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat yang memukau, mencakup hamparan Kota Bengkulu, aktivitas pelabuhan, dan Samudra Hindia yang tak bertepi, khususnya saat matahari terbenam.
Benteng ini berlokasi di Jalan Benteng, Kebun Keling, Teluk Segara, Kota Bengkulu, dengan tiket masuk yang sangat terjangkau berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
