Yayasan Bahtera Pariwisata Indonesia Mendorong Potensi Wisata Sejarah Dan Alam Masuk Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah Kota Jayapura

📅 5 September 2026
✍️ Oleh: noreply@blogger.com (Redaksi Batlax)  ·  📰 Lelemuku.com
<div class="separator" style="text-align: center;"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI2AWqQb5Me_mzTqNwXmivNrxR3JidClLUPKq8t_ohSyDKy7HcxcSHNc6Pyu5n3wWY47RFPOlqC9ExSu61VBTcHaOFQ3B2YxTctXEMzAFSmb1-fx5w_fcawL_NtIcqqtxKuuZ-L-EWAiJB2wd_3Bd5_pTr2w5BK4_gy29QvvAs0OW_gNDt_spSCYjddg/s1600/1002299834.jpg" style="max-width:100%; height:auto;" /></div><p>JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Ketua Lembaga Penelitian dan Konsultan Yayasan Bahtera Pariwisata Indonesia Jerry Aronggear mendorong sejumlah potensi wisata sejarah dan alam di Kota Jayapura agar dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah pada Jumat (4/9/2026).</p><p>Usulan tersebut disampaikan dalam Seminar Akhir penyusunan laporan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah atau RIPPDA yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Jayapura. Beberapa potensi yang didorong meliputi situs peninggalan tentara Jepang di kawasan Kayu Batu serta pemandian air panas di Kampung Nafri yang belum banyak diketahui masyarakat luas.</p><p>Selain potensi wisata fisik, Jerry juga menyoroti kunjungan wisatawan asing yang menggunakan kapal pesiar ke wilayah tersebut. Setiap tahun terdapat 1.000 lebih wisatawan asing yang datang, namun Kota Jayapura sejauh ini hanya menjadi tempat transit sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Jayapura.</p><p>Di kawasan Kayu Batu, peninggalan tentara Jepang berupa tengkorak dan tulang-belulang dilaporkan masih dapat ditemukan secara langsung di lokasi. Sementara itu, pemandian air panas di Kampung Nafri dinilai memiliki potensi besar karena lokasinya yang tidak jauh dari akses jalan utama, melengkapi pemandian air panas yang sebelumnya sudah dikenal di Kampung Mosso.</p><p>Guna menahan wisatawan agar tinggal lebih lama dan meningkatkan perputaran uang di Kota Jayapura, pihak yayasan telah berkoordinasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mengembangkan konsep pariwisata berbasis kampung dengan memastikan kesiapan masyarakat lokal di sekitar Jayapura.</p><p>"Situs peninggalan tengkorak di Kayu Batu, kebetulan kemarin baru ke sana juga. Tengkorak dan tulang-tulang masih ada sampai saat ini," kata Jerry.</p><p>"Dengan RIPPDA ini kami sudah memasukkan beberapa usulan bagaimana membuat mereka bisa stay di sini lebih lama. Kemudian spending money mereka lebih besar,kita juga sudah kordinasi dengan Himpunan Pariwisata " ujarnya.</p><p>Melalui penyusunan dokumen RIPPDA ini, pemerintah daerah diharapkan memiliki peta jalan yang lebih jelas dalam menentukan destinasi prioritas, memperkuat promosi, mengembangkan kampung wisata, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam industri pariwisata. (Papua Terbit)</p>