Majelis Muslim Papua Dan Aliansi Demokrasi Untuk Papua Gelar Dialog Perdamaian Di Jayapura

📅 19 September 2026
✍️ Oleh: noreply@blogger.com (Redaksi Batlax)  ·  📰 Lelemuku.com
<div class="separator" style="text-align: center;"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLWySeNhKkaPTjCRLDSu0DJtYIMTomz7hvM-jelg9cw54hI8jEP9fmqbHqF62jpo6q1YeCA2Hd4ngNfmSszaMPP_l6tfH9Neih76amZZAOb8tTwvrxbJcTp3qpTpsgoayZYQHZy2I3ASe7CkLTW5b0IhgcoeCEudJZBVAb07MR1mIuRbql4kPGrqHERw/s1600/1002342865.jpg" style="max-width:100%; height:auto;" /></div><p>JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Pengurus Pusat Majelis Muslim Papua bersama Aliansi Demokrasi untuk Papua menggelar Dialog Perdamaian guna membahas peran dan respons umat beragama terhadap dinamika kemanusiaan di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura, pada Kamis (17/9/2026).</p><p>Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua yang diwakili Pembimbing Masyarakat Buddha, Sarono. Dialog ini menghadirkan tiga pembicara utama dari berbagai latar belakang untuk memaparkan pandangan mereka mengenai pentingnya menjaga perdamaian di Papua.</p><p>Kementerian Agama sendiri menempatkan kerukunan umat beragama sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. Berdasarkan kajian lembaga tersebut, dialog dan interaksi lintas agama menjadi salah satu modal sosial yang kuat dalam membangun harmoni kehidupan masyarakat di Papua.</p><p>Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Sosial, Seni, dan Budaya Pengurus Pusat Majelis Muslim Papua, La Mochtar Unu, menekankan pentingnya merawat keragaman sebagai kekuatan sosial masyarakat Papua. Ia menyoroti nilai kearifan lokal satu tungku tiga batu sebagai modal sosial dalam membangun kehidupan yang harmonis, seperti kerja sama dalam pembangunan rumah ibadah dan menjaga keamanan hari besar keagamaan.</p><p>Akademisi Universitas Cenderawasih, Bernarda Meteray, mengajak peserta melihat dinamika Papua melalui perspektif sejarah, konflik, demokrasi, dan dialog yang bermakna. Sementara itu, perwakilan Uskup Jayapura, Yanuarius Puduwiyai Apkulo Dou, menekankan bahwa pembangunan di Papua harus menempatkan manusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar diukur dari infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi.</p><p>"Perbedaan itu abadi dan akan selalu ada. Karena itu, kita harus saling menjaga, menghargai, dan membantu satu dengan yang lainnya. Hargai perbedaan, berdamai dengan diri sendiri, damai dengan semua, dan damai dengan semesta," ujar La Mochtar Unu.</p><p>"Perdamaian tidak bisa dipertahankan dengan kekerasan. Perdamaian hanya bisa dicapai melalui pemahaman. Karena itu, kita perlu membuka hati, membangun komunikasi, dan mengurangi masalah, bukan menambah masalah," kata Bernarda Meteray.</p><p>"Jika kita ingin menjaga Papua sebagai Tanah Damai, kita harus menyapa mereka yang sedang terluka, yang menderita, dan yang mengalami persoalan kemanusiaan. Kita memiliki tanggung jawab untuk membangun Papua sebagai Tanah Damai secara bersama-sama," ucap Yanuarius Puduwiyai Apkulo Dou. (Papua Terbit)</p>