Rumput Mei Wamena: Hamparan Ungu yang Hadir Setahun Sekali di Lembah Baliem
WAMENA, LELEMUKU.COM – Biasanya, sebuah lembah dipenuhi oleh hamparan rumput hijau yang luas. Namun berbeda dengan Lembah Baliem di Wamena, Papua Pegunungan. Pada bulan tertentu, lembah ini berubah menjadi lautan ungu muda dan pink yang memukau. Fenomena alam ini hanya terjadi setahun sekali, tepatnya di bulan Mei .
Orang-orang menyebutnya Rumput Mei. Namun masyarakat asli Suku Hubula di Lembah Baliem memiliki nama sendiri untuk tanaman ini. Ada yang menyebutnya **Owasi-owasika**, ada pula yang menamakannya **Laga-lagaka** . Nama Owasi-owasika memiliki makna yang indah. Dalam bahasa Hugula, *owasi* berarti bau yang harum, dan *eka* artinya daun. Jadi, Owasi-owasika kurang lebih berarti rumput atau dedaunan yang berbau harum .
Sedangkan Laga-lagaka mengandung filosofi yang dalam. *Laga* berarti pergi atau menjalar. Maka Laga-lagaka diartikan sebagai sesuatu yang berjalan atau merambat terus menerus ke mana-mana . Nama Rumput Mei sendiri mulai populer setelah seorang fotografer di Wamena mengunggah fotonya di media sosial pada 7 Mei 2020. Masyarakat pun lebih mudah mengingatnya karena bunga yang cantik itu mekar di bulan Mei .
Yang unik dari rumput ini adalah ia bukanlah tanaman asli Wamena. Keberadaannya baru tercatat sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an . Ada cerita menarik mengenai asal-usulnya. Seorang tokoh misionaris Katolik asal Belanda, Pater Lishout, memiliki dugaan yang logis. Ia meyakini bahwa bibit rumput ini terbawa oleh roda ban pesawat kecil seperti Cessna yang sering mendarat di lapangan terbang pedalaman Papua .
"Kemungkinan bibit rumput dibawa oleh roda ban pesawat kecil bagian belakang. Misalnya, pesawat jenis Cesna yang banyak menyinggahi lapangan terbang kecil di pedalaman Papua," ujar Pater Lishout beberapa waktu lalu .
Tokoh masyarakat Jayawijaya, Yusuf H. Molama, memiliki pandangan berbeda. Ia menduga bibit rumput sengaja dibawa oleh misionaris Belanda yang datang ke Lembah Baliem dan mulai mendirikan pos di Distrik Wesaput . Apapun asal-usulnya, rumput ini kini telah menyebar luas dan menjadi ikon tersendiri bagi Wamena.
Fenomena lautan ungu ini tidak berlangsung lama. Masyarakat setempat dan wisatawan hanya bisa menikmatinya pada rentang waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar tanggal 5 hingga 14 Mei setiap tahunnya . Peneliti Botani dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor, Lina Djuswara, menjelaskan bahwa warna ungu ini muncul karena musim berbunga. Suhu yang cenderung lebih hangat dan curah hujan yang rendah di bulan April hingga Juni memicu rumput ini untuk berbunga serentak .
Setelah melewati tanggal 20 Mei, warna ungunya perlahan akan mulai pudar . Karenanya, jika ingin melihat keajaiban ini, wisatawan harus merencanakan perjalanan di awal bulan Mei. Jika tidak, yang didapat hanya hamparan rumput yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan.
Lokasi terbaik untuk melihat hamparan Rumput Mei berada di beberapa titik di Lembah Baliem. Tempat paling populer adalah di Kampung Parema, Distrik Wesaput, dan Kampung Aikima, Distrik Hubikosi. Selain itu, hamparan ungu juga bisa ditemukan di Distrik Napua dan Distrik Walesi . Lokasi-lokasi ini sangat mudah dijangkau dari Kota Wamena. Jaraknya hanya sekitar 15 hingga 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat .
Bagi masyarakat asli Wamena, Rumput Mei bukan hanya sekadar pemandangan yang indah untuk latar foto. Tanaman ini memiliki nilai guna dalam kehidupan sehari-hari mereka. Rumput ini kerap dimanfaatkan sebagai alas kandang ternak, khususnya babi . Bahkan, masyarakat setempat percaya bahwa rumput ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan babi yang sedang sakit demam atau kedinginan .
Selain untuk kandang babi, batang Rumput Mei yang telah tua dan kering kerap digunakan untuk membuat pagar kebun, atap rumah sementara, atau bahkan dinding honai . Di masa lalu, saat masih berwarna hijau, rumput ini juga digunakan sebagai alas untuk menaruh makanan dalam proses memasak tradisional dengan metode bakar batu .
Kini, fenomena tahunan ini telah menjadi magnet wisata alam yang mendunia. Saat bulan Mei tiba, warga lokal hingga wisatawan dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Lembah Baliem. Mereka mengabadikan momen dengan swafoto di tengah hamparan ungu yang seolah tiada ujung . Bagi mereka, Rumput Mei adalah bukti bahwa alam Papua menyimpan keajaiban yang tidak akan pernah habis untuk dikagumi. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
