Bedah Buku Gamifikasi Kekerasan: Kadensus 88 Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor Lindungi Anak di Ruang Digital

Bedah Buku Gamifikasi Kekerasan: Kadensus 88 Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor Lindungi Anak di Ruang Digital

JAKARTA, LELEMUKU.COM – Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, Irjen Pol. Sentot Prasetyo, menegaskan krusialnya memperkuat proteksi terhadap anak, literasi digital, serta sistem deteksi dini berbasis kolaborasi. Langkah ini dinilai sebagai tameng utama dalam menghadapi dinamika ruang siber yang terus bermutasi dengan cepat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara bedah buku bertajuk Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital, Rabu (20/5/2026). Forum ini mengupas tuntas urgensi formulasi metode pencegahan yang lebih adaptif, humanis, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat.

Dalam paparannya, Kadensus 88 menjelaskan bahwa lompatan teknologi digital membawa konsekuensi tantangan baru yang kompleks. Kelompok anak-anak dan remaja menjadi kluster yang paling rentan karena berada pada fase transisi pencarian identitas diri, sehingga mudah terdistorsi oleh stimulasi lingkungan sosial maupun konten digital.

"Anak dan remaja berada pada fase pencarian identitas. Karena itu, penguatan literasi digital, ketahanan psikologis, dan lingkungan sosial yang sehat menjadi bagian penting agar mereka mampu menghadapi berbagai pengaruh di ruang digital secara lebih kritis dan sehat," urai Irjen Pol. Sentot Prasetyo.

Mengubah Paradigma Penindakan Menjadi Perlindungan

Jenderal bintang dua ini menggarisbawahi bahwa penanganan terhadap anak yang terpapar dampak negatif siber harus mengedepankan aspek perlindungan, rehabilitasi psikis, dan pendampingan melekat, bukan semata-mata menonjolkan pendekatan hukum atau penindakan represif.

Berdasarkan hasil asesmen dan pemetaan berkala yang dilakukan Densus 88, indikator kerentanan anak di dunia maya dipicu oleh akumulasi banyak faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi krisis identitas, keterasingan sosial (alienasi), tindakan perundungan (bullying), hingga tingginya ekspektasi terhadap pengakuan atau penerimaan sosial di komunitasnya.

Kendati demikian, Sentot menegaskan bahwa temuan data empiris tersebut wajib dijadikan pijakan utama untuk memperkokoh benteng pencegahan secara kolektif, bukan justru digunakan untuk membangun stigma negatif atau mengucilkan anak.

Guna merealisasikannya, Densus 88 mendorong implementasi pendekatan kolaboratif (collaborative approach) yang mensinergikan peran keluarga, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, akademisi, komunitas pemuda, hingga para penyedia platform digital.

Implementasi strategi ini diwujudkan melalui kurikulum Pendidikan Kritis dan Ketahanan Digital di sekolah-sekolah, penguatan kapasitas guru dan orang tua sebagai garda terdepan, serta konsep ecological prevention yang menyentuh seluruh ekosistem sosial anak.

Dukungan Akademisi dan Pakar Lintas Disiplin

Pola pikir yang diusung oleh Densus 88 ini mendapat legitimasi kuat dari sejumlah pakar yang hadir sebagai penanggap. Psikolog Forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai penanganan dini sangat mendesak diberikan kepada anak-anak yang merasa tidak terlihat (invisible) dan kehilangan makna hidup agar tidak terjerumus dalam kerentanan psikologis yang lebih dalam.

Di sisi lain, pakar hukum Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D., mengingatkan otoritas keamanan agar seluruh instrumen pencegahan tetap berdiri tegak di atas koridor Hak Asasi Manusia (HAM) serta berbasis pada bukti ilmiah yang valid (evidence-based policy).

Dari dimensi klinis, psikolog forensik Dra. Adityana Kasandra Putranto menitikberatkan pada urgensi stabilitas kesehatan mental sebagai modal dasar pembentukan generasi tangguh. Sementara itu, founder Drone Emprit Dr. Ismail Fahmi memandang perlunya edukasi publik berbasis data makro agar masyarakat mampu mendeteksi anomali perubahan dinamika digital sejak awal.

Menutup arahannya, Kadensus 88 menyimpulkan bahwa seluruh formulasi strategi pertahanan siber ini bermuara pada satu tujuan luhur, yakni menjamin keberlangsungan masa depan generasi penerus bangsa.

"Tujuan akhirnya bukan menciptakan rasa takut, tetapi membangun kesadaran bersama agar anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan memiliki ketahanan menghadapi tantangan era digital," pungkas Sentot Prasetyo. (Elo)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya