Kabupaten Puncak Kembali Berdarah : Sembilan Warga Sipil Tewas dalam Kontak Senjata di Kebru [PENTING]

Kabupaten Puncak Kembali Berdarah : Sembilan Warga Sipil Tewas dalam Kontak Senjata di Kebru

ILAGA, LELEMUKU.COM – Sembilan warga sipil tewas akibat operasi militer Indonesia di Distrik Kebru, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, sejak Senin 13 April 2026 hingga Selasa 14 April 2026.

Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, menyatakan bahwa kontak senjata ini dilakukan dengan menggunakan empat helikopter yang menjatuhkan amunisi peledak di Kampung Guamo, Distrik Pogoma, pada Senin 13 April 2026. 

Akibatnya warga sipil melarikan diri ke Distrik Kebru yang sebelumnya telah disepakati sebagai zona aman bagi pengungsi.

Namun pada Selasa 14 April 2026 dini hari, pasukan gabungan kembali melakukan operasi baik melalui udara maupun darat di Distrik Kebru. 

Kontak senjata ini menewaskan sembilan warga sipil murni yang sedang mengungsi.

Korban jiwa yang berhasil diidentifikasi adalah Wundili Kogoya (36 tahun), Kikungge Walia (55 tahun), Pelen Kogoya (65 tahun), Tigiagan Walia (76 tahun), Ekimira Kogoya (47 tahun), Daremet Telenggen (55 tahun), Inikiwewo Walia (52 tahun), Amer Walia (77 tahun), dan Para Walia (5 tahun).

Sebby Sambom menegaskan bahwa Distrik Kebru seharusnya steril dari operasi militer karena telah disepakati oleh semua pihak sebagai zona pengungsian bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Namun kesepakatan tersebut dilanggar oleh militer Indonesia.

TPNPB mengutuk keras serangan tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan dalam perang dan menuntut investigasi independen oleh lembaga hak asasi manusia internasional.

Sementara itu, pihak aparat keamanan menyatakan bahwa TPNPB Komando Daerah Operasi III Puncak pimpinan Lekagak Talenggen telah membakar rumah warga di Kampung Muara, Distrik Pogoma, pada Senin 13 April 2026 pagi. 

Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, mengatakan peristiwa itu menimbulkan kepanikan dan warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

“Sejumlah warga dilaporkan mengungsi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari potensi gangguan lanjutan oleh kelompok OPM,” ujarnya (13/04/2026).

Usai menerima laporan kejadian, tim patroli Koops TNI Habema langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan dan penyisiran di area sekitar kampung guna memastikan kondisi keamanan serta keberadaan kelompok bersenjata.

“Tim patroli keamanan Koops TNI Habema melakukan penyisiran di sekitar muara dan perkampungan, guna memastikan keberadaan anggota OPM, dan mencegah adanya ancaman terhadap warga,” jelasnya.

Dari hasil pemantauan menggunakan drone, aparat disebut mendeteksi sejumlah orang yang diduga membawa senjata api di sekitar lokasi kejadian. Hingga kini, aparat gabungan masih terus melakukan penyisiran untuk mengamankan wilayah tersebut.

Pihak TNI juga menegaskan akan meningkatkan patroli keamanan di Distrik Pogoma dan sekitarnya guna mencegah kejadian serupa terulang serta memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga.

“Hingga saat ini, aparat masih melakukan pengamanan dan pemantauan di wilayah tersebut,” tambahnya. 

Salah satu warga setempat bernama Herryck Wene Tabuni menyatakan bahwa operasi ini menciptakan ketakutan dan meningkatkan risiko bagi warga sipil khususnya mereka yang sudah mengungsi.

Sebab akses internet di lokasi sekitar sangat susah, sementara internet di ibukota kabupaten terputus sehingga mencegah warga sipil melaporkan apa yang terjadi secara cepat ke publik.

Masyarakat setempat, kata dia, juga meminta pemerintah pusat pemerintah kabupaten Puncak dan Palang Merah Indonesia segera turun tangan untuk menangani korban serta menghentikan operasi militer di Distrik Kebru yang telah disepakati sebagai zona aman. (Akom)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya