Festival Sagu Lindungi Kekayaan Intelektual Orang Papua

JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Semangat kebersamaan dan cinta tanah air terpancar kuat dalam perhelatan akbar Festival Sagu Papua 2026 yang digelar di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua di Dok 2 Kota Jayapura pada Jumat 24 April 2026. 

Acara ini bukan sekadar pameran dagang, melainkan wujud nyata penerimaan tema Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, "Kekayaan Intelektual dan Olahraga: Siap Mulai Berinovasi", yang diangkat menjadi momentum untuk mengangkat harkat dan martabat komoditas lokal dengan mengusung tema besar "Sagu adalah Hidupku, Sagu Menjamin Peradaban Papua".
 
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Papua, Anthonius M. Ayorbaba, dalam laporannya menceritakan keajaiban di balik antusiasme masyarakat. Menurutnya, sejak menjabat pada tahun 2021 hingga saat ini, biasanya data peserta festival tidak lebih dari 10 orang. 

Namun kali ini berbeda. Awalnya hanya disiapkan 30 booth setelah berdiskusi dengan Kapolresta Jayapura pemegang merek "Colo Sagu", namun tanpa disangka jumlah pendaftar melonjak menjadi 38 UMKM.
 
Lebih dari itu, para pelaku usaha datang bukan hanya dari Kota dan Kabupaten Jayapura, melainkan berbondong-bondong hadir dari pelosok tanah Papua seperti Merauke, Mambramo Raya, Kepulauan Yapen, dan berbagai kabupaten lainnya. 

Hal ini membuktikan satu hal yang sangat mendasar, bahwa meskipun secara administrasi provinsi terpecah, namun "Sagu tidak akan pernah memisahkan Orang Asli Papua, justru Sagu lah yang akan mempersatukan kita semua".
 
Dalam kesempatan bersejarah ini, Kementerian Hukum Kanwil Papua, menyerahkan total 38 sertifikat kekayaan intelektual dan 3 piagam penghargaan bergengsi langsung dari Menteri Hukum Republik Indonesia. 

Penghargaan diberikan kepada pengelola event yang dinilai luar biasa, yakni merek "Baku Timba" milik Octo Worabai Entertainment untuk Provinsi Papua, "Tifa Kreatif" dari Mimika yang mewakili Papua Tengah sebagai Kawasan Karya Cipta, serta Festival Asmat Pokman dari Papua Selatan yang pernah mencatatkan omzet fantastis hingga Rp 3,4 Miliar pada tahun 2022.
 
Perwakilan Menteri Hukum RI, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Reformasi Birokrasi Dr. Sucipto, menegaskan komitmen kuat pemerintah pusat dengan menyampaikan pesan tegas "Papua tetap menjadi milik Papua". 

Data mencatat kreativitas masyarakat terus berkembang dengan ribuan hak cipta, merek, dan paten yang telah tercatat, dan pemerintah siap memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan terjangkau untuk melindungi aset bangsa ini.
 
Dukungan penuh juga datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, Prof. Agus Haryono, memaparkan kesiapan 12 organisasi riset beserta 9.000 peneliti untuk berkolaborasi meningkatkan nilai tambah produk sagu, selain siap membantu penyusunan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan hingga menyediakan program pendanaan seperti RIM Startup untuk kemajuan UMKM.
 
Sementara itu, mewakili Gubernur Papua, Wakil Gubernur Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen menekankan pentingnya keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian tradisi. 

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan sagu sebagai simbol kemandirian ekonomi, menjaga kelestarian hutan, serta melindungi karya cipta agar tidak dibajak, khususnya demi kesejahteraan Mama-Mama Papua dan generasi muda.
 
Wagub yang secara resmi membuka Festival Sagu itu menyatakan komitmen serius dalam mengangkat komoditas pangan lokal ke panggung ekonomi yang lebih luas.

Beragam olahan berbasis sagu dipamerkan, mulai dari tepung sagu, biskuit sagu, kue lontar, hingga produk kreatif seperti stik sagu dan kue tradisional khas Papua lainnya.

Wagub menegaskan bahwa pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat pemasaran produk sagu. Salah satu upaya yang akan ditempuh adalah penyusunan Peraturan Daerah (Perda) guna mendorong distribusi produk lokal ke pasar yang lebih luas, termasuk toko modern, supermarket, hingga sektor perhotelan.

“Ke depan, kami ingin produk sagu tidak hanya menjadi konsumsi lokal, tetapi mampu bersaing dan hadir di berbagai lini pasar modern. Ini bagian dari penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga simbol revitalisasi sagu sebagai pangan identitas masyarakat Papua. Pemerintah berharap, melalui kebijakan yang terarah dan dukungan lintas sektor, sagu dapat menjadi komoditas unggulan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya. (Laura)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya