-->

Inilah Pidato Presiden Seychelles, Danny Faure Saat Berbicara di Debat Umum PBB ke 75

Inilah Pidato Presiden Seychelles, Danny Faure Saat Berbicara di Debat Umum PBB ke 75.lelemuku.com.jpg

NEW YORK, LELEMUKU.COM - Danny Faure, Presiden Republik Seychelles, menyampaikan debat umum Sesi ke-75 Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat pada Selasa 22 September 2020.

Ia mengatakan pelajaran menyakitkan yang dipetik dan harus digarisbawahi sejak wabah COVID-19 adalah perlunya sistem multilateral yang direvitalisasi dan lebih inklusif kepada semua pemangku kepentingan.

"Terlepas dari pelajaran dari wabah virus sebelumnya, penyiapan yang ada telah gagal merespons secara memadai, dengan konsekuensi yang menghancurkan. Seychelles menghadapi tantangan tersebut dengan industri utamanya, pariwisata telah runtuh," ungkap dia.

Dikatakan guna menangani hal itu ia memperkenalkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyelamatkan rakyatnya.

"Hanya butuh 4 bulan bagi pandemi untuk menghapus peningkatan kualitas hidup yang telah dibangun negara itu dalam 44 tahun sejak kemerdekaannya. Menghadapi defisit anggaran 14 persen yang diprediksi, bukan surplus empat persen, dan perkiraan pertumbuhan pertumbuhan 3,9 persen malah berubah menjadi defisit 15,2 persen," kata dia.

“Kami memperkirakan akan membutuhkan setidaknya lima tahun bagi Seychelles untuk kembali ke keadaan sebelum COVID-19, dengan asumsi dunia mendapat vaksin ” tambah dia.

Faure menyatakan,negara-negara berkembang kepulauan kecil telah melakukan upaya heroik untuk menopang pekerjaan, tetapi upaya ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang, katanya.

"Karena ujian utama multilateralisme adalah bagaimana multilateralisme membantu ekonomi yang rentan," kata ia.

Sehingga dirinya meminta semua pemangku kepentingan yang relevan untuk mengambil tindakan yang mengatasi krisis, mempertahankan pencapaian pembangunan dan memperkuat ketahanan terhadap guncangan di masa depan. Lembaga keuangan internasional harus memeriksa kembali kriteria kelayakan untuk pembiayaan lunak, mengingat risiko khusus yang dihadapi oleh negara berkembang kepulauan kecil.

"Untuk itu, Seychelles mendukung Aliansi Negara-negara Pulau Kecil dalam seruannya agar negara-negara berkembang kepulauan kecil kompak untuk memandu ekonomi mereka melewati krisis dan memperkuat perlawanan terhadap perubahan iklim," ujar dia.

Selanjutnya restrukturisasi ekonomi global besar-besaran yang sedang berlangsung memberikan peluang unik, katanya, dengan pemulihan ekonomi bergantung pada kesehatan lingkungan. Untuk itu, negaranya meminta para karyawan yang dibuat mubazir oleh pandemi COVID ‑ 19 dengan menanam ratusan ribu pohon di seluruh negeri.

"Mengatasi dua pilar ekonomi utamanya yaitu pariwisata dan perikanan, Seychelles menyampaikan komitmennya untuk melindungi 30 persen dari zona ekonomi eksklusif raksasa seluas 1,34 juta kilometer persegi pada tahun 2020. Mencapai tujuan 1,5 ° C tetap penting jika kita ingin tidak meninggalkan negara tertinggal, ”katanya.

Ditegaskan hal ini dilakukan karena perubahan iklim adalah ancaman nomor satu bagi kemanusiaan. Namun, masa depan multilateralisme bergantung pada respons global transformatif terhadap pandemi, sebuah transformasi yang akan membawa semua termasuk negara yang paling rentan dan ekonomi yang rapuh ke dalam dunia yang lebih siap untuk memenuhi tujuan Agenda 2030 dan Perjanjian Paris. (PBB)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel