Wisata Sejarah Islam di Aceh, Jejak Kesultanan Pertama Asia Tenggara yang Masih Terlupakan
BANDA ACEH, LELEMUKU.COM - Sebagai wilayah paling awal dimasuki Islam di Kepulauan Asia Tenggara, Aceh memiliki sangat banyak tempat wisata sejarah Islam yang penting namun sebagian besar masih terlupakan wisatawan. Makam sultan kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara hingga peninggalan bersejarah lainnya tersebar di seluruh wilayah Aceh namun belum dikembangkan dan dipromosikan secara maksimal sebagai destinasi wisata religi.
Makam Sultan Malikussaleh yang merupakan pendiri Kesultanan Samudera Pasai, kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara, terletak di Aceh Utara. Kompleks makam ini menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Nusantara pada abad ke-13 dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi namun kondisi situs masih belum tertata dengan baik dan minim fasilitas pendukung untuk wisatawan.
Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh merupakan ikon Aceh yang tidak lekang oleh waktu dengan dinding putih cerah dan kubah hitam megah. Masjid berusia 130 tahun ini menjadi tempat ratusan orang mencari perlindungan saat tsunami 2004 yang menghancurkan sebagian besar lanskap kota. Arsitektur masjid yang memadukan gaya Mughal dan tradisional Aceh menjadikannya destinasi wisata religi sekaligus sejarah yang wajib dikunjungi.
Benteng Indra Patra di Ladong, Aceh Besar, merupakan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam. Benteng besar di sisi pantai ini dulunya berfungsi untuk mengawasi keamanan kawasan perdagangan antara pedagang lokal dan asing yang datang ke pelabuhan Aceh. Lokasinya yang strategis menjadikan benteng ini penting dalam sistem pertahanan kesultanan.
Makam Laksamana Malahayati di Aceh Besar adalah tempat peristirahatan terakhir pahlawan wanita Aceh yang memimpin pasukan Inong Balee melawan penjajah Portugis dan Belanda. Sebagai laksamana perempuan pertama di dunia, Laksamana Malahayati memiliki peran penting dalam sejarah maritim Nusantara namun makamnya belum mendapat perhatian serius sebagai destinasi wisata sejarah.
Museum Aceh di Banda Aceh menyimpan berbagai koleksi bersejarah termasuk replika Rumoh Aceh atau rumah adat tradisional Aceh yang menunjukkan bagaimana kehidupan masyarakat Aceh di masa lampau. Arsitektur bangunan museum yang menarik dan kafe yang tersedia di areanya membuat tempat ini nyaman untuk dikunjungi namun masih sepi wisatawan terutama dari luar Aceh.
Gampong Pande di Banda Aceh merupakan kawasan bersejarah tempat para pandai besi Aceh membuat berbagai senjata tradisional seperti rencong, sikin panyang, dan peurise sejak ratusan tahun lalu. Meski kini sudah jarang yang melanjutkan tradisi pembuatan senjata tradisional, kawasan ini masih menyimpan cerita tentang kejayaan kerajinan logam Aceh di masa kesultanan.
Kompleks makam sultan-sultan Aceh di Kandang XII dan Kandang XXII menjadi bukti kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah menjadi kekuatan maritim dan perdagangan paling berpengaruh di Asia Tenggara. Batu nisan dengan kaligrafi Arab yang indah dan arsitektur makam yang khas mencerminkan tingginya peradaban Islam di Aceh pada masa itu.
Benteng Inong Balee di kawasan pesisir Aceh memiliki makna sejarah yang dalam terutama berkaitan dengan Kumala Hayati dan pasukan perempuan yang ikut berjuang melawan penjajah. Benteng ini dulunya digunakan untuk mengawasi dan memantau keamanan perdagangan serta menjaga kedaulatan wilayah kesultanan dari ancaman asing.
Namun pengembangan wisata sejarah Islam di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak situs bersejarah yang kondisinya tidak terawat dengan baik karena minimnya anggaran pemeliharaan, informasi sejarah yang kurang lengkap di lokasi sehingga wisatawan tidak mendapat pemahaman mendalam, serta akses menuju beberapa situs yang masih sulit dijangkau kendaraan.
Kurangnya pemandu wisata yang memahami sejarah Islam Aceh secara komprehensif juga menjadi kendala dalam memberikan pengalaman edukatif yang berkualitas kepada wisatawan. Pelatihan pemandu wisata sejarah yang profesional dengan pengetahuan mendalam tentang Kesultanan Aceh dan peran Aceh dalam penyebaran Islam di Nusantara perlu diprioritaskan.
Promosi wisata sejarah Islam Aceh masih sangat minim baik di tingkat nasional maupun internasional padahal potensinya sangat besar untuk menarik wisatawan religi dari berbagai negara Muslim. Paket wisata ziarah yang menggabungkan kunjungan ke makam sultan, masjid bersejarah, dan situs peninggalan kesultanan bisa menjadi produk wisata unggulan yang membedakan Aceh dari destinasi lainnya.
Pemerintah daerah dan stakeholder pariwisata perlu bekerja sama dengan akademisi sejarah dan pemangku adat untuk menyusun narasi sejarah yang akurat dan menarik tentang setiap situs. Penggunaan teknologi seperti audio guide, aplikasi mobile, dan virtual reality dapat membantu wisatawan memahami sejarah dengan lebih interaktif dan menyenangkan.
Dengan ratusan situs sejarah Islam yang tersebar di seluruh Aceh, provinsi ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat wisata sejarah Islam di Asia Tenggara. Pengembangan yang serius dengan melibatkan berbagai pihak dapat menjadikan wisata sejarah sebagai pilar baru ekonomi Aceh sekaligus menjaga dan melestarikan warisan peradaban Islam Nusantara untuk generasi mendatang. (asm)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
