-->

Inilah Pidato Presiden Rwanda, Paul Kagame Saat Berbicara di Debat Umum PBB ke 75

Inilah Pidato Presiden Rwanda, Paul Kagame Saat Berbicara di Debat Umum PBB ke 75.lelemuku.com.jpg

NEW YORK, LELEMUKU.COM - Paul Kagame, Presiden Republik Rwanda, menyampaikan debat umum Sesi ke-75 Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa 22 September 2020.

Ia menyatakan kemajuan pembangunan yang digencarkan PBB melalui pencapaian tindakan multilateral, merupakan tonggak sejarah selama beberapa dekade yang mencoba membuat dunia lebih hijau, lebih aman dan lebih tangguh, sambil berfungsi sebagai pengingat tentang berapa banyak yang masih harus dilakukan.

Ia juga memuji pekerjaan luar biasa dari WHO, dengan mengatakan pembuatan Access to COVID Tools Accelerator, termasuk COVAX Global Vaccines Facility, sangat penting bagi Afrika.

"Karena program ini memastikan akses yang adil ke vaksin, terapi, dan diagnostik akan mempercepat akhir dari pandemi untuk semua orang. Memang, pandemi telah menyoroti pentingnya sistem kesehatan nasional yang tangguh dan pembiayaan kesehatan dalam negeri yang kuat," jelas dia.

Negara-negara anggota Uni Afrika, katanya memperjuangkan agenda ini dengan penekanan tidak hanya pada pengeluaran lebih banyak, tetapi pengeluaran lebih baik. Tujuannya agar Afrika dapat memanfaatkan sumber dayanya sendiri untuk memperkuat dampak kemitraan kesehatan global.

Menyoroti bidang-bidang yang membutuhkan perhatian, dia mengatakan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, kemakmuran akan terkait erat dengan literasi digital dan akses ke konektivitas berkecepatan tinggi.

Ia juga mengingatkan bahwa gerakan global untuk keadilan dan kesetaraan rasial bukanlah “fenomena sekilas belaka”.

"Apa yang dibutuhkan adalah tindakan yang membangun kepercayaan publik atas kesetaraan martabat semua warga negara, seperti yang ditunjukkan dalam perlakuan terhadap mereka yang secara historis paling terpinggirkan, dan yang terus mengalami penganiayaan secara tidak proporsional. Keberhasilan bergantung pada penguatan institusi, baik nasional maupun internasional. Keturunan kita akan melihat ke belakang dan menilai bagaimana generasi ini menanggapi tantangan ini, terutama para pemimpin,” katanya.

Ia juga mempertanyakan apakah pencapaian kolektif tiga generasi selama 75 tahun dalam membangun tatanan internasional yang lebih kuat akan hancur menjadi saling tuduh dan kebencian, atau jika dunia akan bersatu untuk sekali lagi mengamankan kemajuan global atas dasar kerja sama dan saling menghormati.

"Pilihan ada di tangan kita," tutup dia.(PBB)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel



Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com selain "" di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Iklan Bawah Artikel