Kabupaten Merangin: Kebudayaan dan Pariwisata di Barat Jambi

📅 19 Oktober 2026
✍️ Oleh: Redaksi Lelemuku.com  ·  📰 Lelemuku.com
Kabupaten Merangin: Kebudayaan dan Pariwisata di Barat Jambi

BANGKO, LELEMUKU.COM - Kabupaten Merangin, terletak di barat Provinsi Jambi, merupakan wilayah terbesar di provinsi tersebut dan pusat kebudayaan serta pariwisata alam yang kaya. Ibukota Bangko menjadi titik temu bagi masyarakat setempat yang beragam, menggabungkan tradisi Melayu, Minangkabau, dan suku lokal lainnya. Sejak lama, Merangin dikenal sebagai daerah subur yang memproduksi hasil pertanian dan perkebunan, sekaligus menjadi tempat bersejarah bagi kerajaan Melayu Jambi. Hingga kini, Merangin tetap menjadi simbol kebersamaan dan keragaman budaya di tengah dinamika Indonesia.

Sejarah Merangin bermula pada masa penjajahan Belanda ketika wilayah ini menjadi bagian dari Keresidenan Jambi. Pada tahun 1956, Undang-Undang Nomor 12/1956 mendirikan Kabupaten Merangin dengan kewedanan Bangko, Sarolangun, Bungo, dan Tebo. Ibukota awalnya Muaro Bungo, namun aktivitas pemerintahan berpusat di Bangko sejak PRRI 1958. Sejak lama, pergerakan administratif ini mencerminkan upaya masyarakat setempat untuk mempertahankan identitas lokal di tengah perubahan politik. Hingga kini, struktur kabupaten tetap menjadi fondasi bagi pembangunan sosial dan ekonomi.

Geografis Merangin menampilkan kombinasi dataran rendah, sedang, dan tinggi. Dataran rendah meliputi Bangko, Pamenang, dan Tabir, sedangkan dataran tinggi terletak di Jangkat, Muara Siau, dan Lembah Masurai. Sungai Batang Tembesi, Batang Merangin, dan Batang Tabir mengalir melalui wilayah ini, menyediakan sumber air bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Ketinggian wilayah berkisar antara 46 hingga 1.206 meter di atas permukaan laut, menciptakan iklim yang mendukung pertanian padi, kelapa sawit, dan kopi. Sejak lama, aliran sungai ini juga menjadi jalur perdagangan tradisional antar kabupaten.

Keunikan budaya Merangin terletak pada sistem adat Depati Tigo, yang menggabungkan pengaruh Pagaruyung dan Minangkabau. Tiga depati-Setiyo Nyato, Setiyo Rajo, dan Setiyo Beti-memimpin wilayah Bangko, Sarolangun, dan Tebo, masing-masing. Adat istiadat ini menekankan sistem matrilineal dan sistem perjanjian adat yang masih dipertahankan dalam upacara pernikahan dan pertemuan adat. Sejak lama, masyarakat Merangin merayakan festival tradisional seperti Pesta Gawai dan Pesta Padi, yang menampilkan tarian, musik gamelan, dan kuliner khas. Hingga kini, festival ini menjadi daya tarik bagi wisatawan budaya.

Pada masa penjajahan, pemerintah Belanda membagi wilayah kewedanan Bangko menjadi 14 marga pada tahun 1916, memperkuat sistem pemerintahan lokal. Setelah kemerdekaan, Merangin mengalami beberapa pemekaran, termasuk pembentukan Kabupaten Sarolangun pada tahun 1999. Sejak lama, perubahan administratif ini mempengaruhi struktur sosial, namun tetap menjaga identitas budaya. Hingga kini, Merangin terus menegaskan peranannya sebagai pusat kebudayaan Melayu Jambi, sekaligus menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat melawan penjajahan.

Pariwisata Merangin menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Air terjun Tebo, air terjun Jangkat, dan hutan bakau di Sungai Tabir menjadi destinasi trekking dan fotografi. Selain itu, wisata budaya seperti rumah adat, museum sejarah, dan pasar tradisional menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat Merangin. Sejak lama, wisatawan dari Sumatera Barat, Kalimantan, dan bahkan luar negeri datang untuk menikmati keindahan alam dan kebudayaan. Hingga kini, pemerintah kabupaten berupaya mengembangkan infrastruktur pariwisata berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.

Signifikansi Merangin tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada peranannya sebagai penghubung antara Provinsi Jambi dan wilayah barat Sumatra. Jalur perdagangan tradisional melalui sungai dan jalan setapak memfasilitasi pertukaran barang dan budaya. Sejak lama, Merangin menjadi titik temu bagi para pedagang Melayu, Minangkabau, dan suku lokal lainnya. Hingga kini, jaringan transportasi modern, seperti jalan tol dan rute bus, memperkuat konektivitas kabupaten dengan kota-kota besar di Sumatra, membuka peluang ekonomi dan pariwisata yang lebih luas.

Di masa kini, Merangin menonjol sebagai contoh pembangunan berkelanjutan yang memadukan ekonomi, sosial, dan budaya. Program pelestarian hutan, pengembangan pertanian organik, dan pelatihan kerajinan tangan menjadi bagian dari strategi pemerintah kabupaten. Sejak lama, masyarakat Merangin telah menunjukkan semangat gotong royong, yang kini menjadi fondasi bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Hingga kini, Merangin tetap menjadi contoh bagaimana wilayah di Indonesia dapat menjaga warisan budaya sambil beradaptasi dengan dinamika global. (Evu)