Kabut Asap dari Merauke Papua Selatan Selimuti NTT, Jarak Pandang Menurun
KUPANG, LELEMUKU.COM – Sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilanda fenomena udara kabur akibat peningkatan konsentrasi asap di atmosfer pada Selasa (13/10/2026). Wilayah yang terdampak meliputi Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan, serta Borong dan Ruteng di Kabupaten Manggarai.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Riris Eliza Helen, menjelaskan bahwa peningkatan asap diduga berasal dari wilayah sekitar NTT maupun dari daerah lain. Sebaran asap tersebut diperkirakan terperangkap di lapisan bawah atmosfer akibat adanya lapisan inversi. "Terkait fenomena ini, dikarenakan adanya peningkatan asap baik di sekitar NTT ataupun yang berasal dari daerah lain yang kemudian terperangkap di atmosfer bagian bawah akibat adanya lapisan inversi," kata Riris di Kupang.
Kondisi tersebut menyebabkan asap bercampur dengan udara sehingga mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap pergerakan asap ialah arah angin yang bertiup dari timur. Riris menyatakan arah angin tersebut mendukung dugaan masuknya sebaran asap dari Papua menuju NTT. Pergerakan asap juga terpantau melalui citra satelit.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Helni Yovin Mega Milla, menambahkan bahwa fenomena udara kabur atau haze ini mulai terlihat cukup tebal sekitar 8 Oktober 2026. Haze merupakan kondisi udara kabur akibat partikel kering yang berada di atmosfer. Fenomena ini berbeda dengan kabut yang terbentuk akibat tingginya kandungan uap air di udara. "Kondisi musim kemarau dan dominasi angin timuran turut mendukung pergerakan asap hingga mencapai wilayah Nusa Tenggara Timur," ujar Helni.
Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Ruteng, Dinda Selviany Surya Labuh, menjelaskan bahwa kondisi udara kabur di Ruteng membuat pandangan ke arah gunung yang biasanya terlihat jelas kini tidak dapat diamati secara jelas. Partikel yang menyebabkan kondisi ini berupa debu, jelaga, dan partikulat hasil pembakaran dari kebakaran hutan dan lahan. Minimnya curah hujan selama musim kemarau panjang menyebabkan tidak adanya proses peluruhan debu oleh hujan sehingga partikel bertahan lama di udara.
Berdasarkan data kualitas udara yang disampaikan BMKG, kondisi udara di NTT berada dalam kategori sedang berdasarkan indikator partikulat halus PM2.5. Kondisi tersebut relatif tidak dirasakan sebagian masyarakat, tetapi dapat mengganggu kesehatan kelompok yang sensitif terhadap pencemaran udara.
BMKG mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Masyarakat juga diharapkan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan, tidak membakar sampah atau lahan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan. (Evu)