Fushimi Inari-Taisha: Kuil Inari Ikonik dengan Jutaan Pengunjung

📅 6 Oktober 2026
✍️ Oleh: Redaksi Lelemuku.com  ·  📰 Lelemuku.com
Fushimi Inari-Taisha: Kuil Inari Ikonik dengan Jutaan Pengunjung

TOKYO, LELEMUKU.COM - Fushimi Inari-taisha adalah kuil utama yang didedikasikan untuk kami Inari, dewa padi dan kesuburan, terletak di lereng gunung Inari. Kuil ini menjadi simbol penting dalam budaya Jepang karena menggabungkan kepercayaan agraris, tradisi bisnis, serta estetika spiritual yang memikat wisatawan dari seluruh dunia.

Menurut catatan tradisional, kuil ini didirikan pada tahun 711 Masehi oleh klan Hata, sebuah kelompok imigran yang datang dari Semenanjung Korea. Klan Hata membawa pengetahuan irigasi, serikultur, dan pembuatan sake, sehingga Inari beralih dari dewa pelindung klan menjadi pelindung panen nasional.

Sejak masa Heian awal, Fushimi Inari-taisha memperoleh patronase kekaisaran; pada tahun 965 Kaisar Murakami menambahkan kuil ini ke dalam daftar 16 kuil utama yang menerima heihaku, persembahan resmi kepada dewa. Pada era Meiji (1871‑1946) kuil ini diangkat menjadi salah satu Kanpei-taisha, menandakan statusnya sebagai kuil pemerintah pertama.

Kompleks kuil mencakup gerbang utama rōmon, aula utama go‑honden, serta kuil dalam okumiya yang dapat diakses lewat jalur setapak yang dikelilingi ribuan gerbang torii. Sekitar 800 torii tersusun berurutan membentuk lorong Senbon Torii yang memberi kesan terowongan cahaya merah, sementara total gerbang yang didonasikan oleh pelaku usaha mencapai sepuluh ribu.

Inari tidak hanya dihormati sebagai dewa padi; pedagang sejak abad Edo mempersembahkan torii sebagai tanda rasa syukur atas keberhasilan bisnis. Rubah (kitsune) yang sering terlihat di kuil dianggap sebagai utusan Inari, biasanya memegang kunci lumbung padi sebagai simbol perlindungan.

Selama berabad-abad, jaringan sub‑kuil (bunsha) berkembang hingga diperkirakan mencapai 32.000 di seluruh Jepang. Di lereng gunung, para pengunjung dapat menempatkan batu altar pribadi (otsuka) dengan nama Inari masing‑masing, menandakan praktik keagamaan yang bersifat personal dan berkelanjutan.

Kuil ini menarik jutaan peziarah setiap tahun, terutama pada periode pergantian tahun baru Jepang, ketika lebih dari dua juta orang mengunjungi dalam tiga hari. Akses mudah melalui Stasiun Inari (JR Nara Line) dan Stasiun Fushimi‑Inari (Keihan) menjadikan kunjungan menjadi pengalaman yang nyaman; area sekitar dipenuhi toko kue tsujiura senbei, yang konon menjadi cikal bakal kue keberuntungan Barat.

Hingga kini, Fushimi Inari-taisha tetap menjadi destinasi yang berkembang mandiri, menyimpan tradisi kuno sekaligus menyambut wisatawan modern. Dengan penerangan malam yang menyoroti gerbang torii, kuil ini mengundang setiap orang untuk menapaki jejak spiritual sekaligus menikmati keindahan alam, menjadikannya contoh harmonisasi warisan budaya dengan pariwisata global. (Evu)