Fenomena Matahari Merah di Banda Neira, Ini Penjelasan Ilmiah dan Prediksi Cuaca BMKG

📅 2 Oktober 2026
✍️ Oleh: Redaksi Lelemuku.com  ·  📰 Lelemuku.com
Fenomena Matahari Merah di Banda Neira, Ini Penjelasan Ilmiah dan Prediksi Cuaca BMKG
AMBON, LELEMUKU.COM – Fenomena matahari tampak berwarna merah pekat menghiasi langit Banda Neira, Maluku, pada Kamis (1/10/2026) sore. Warga yang menyaksikan momen tersebut mengabadikannya dan membagikannya di media sosial, memicu berbagai spekulasi mengenai penyebab dan kemungkinan dampaknya terhadap cuaca ke depan.

Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, termasuk Palangka Raya pada Agustus 2026 dan Medan pada awal September 2026.

Penjelasan Ilmiah: Efek Optik Atmosfer

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena matahari tampak merah bukan berarti matahari benar-benar berubah warna. Ini merupakan efek optik atmosfer yang terjadi karena interaksi cahaya matahari dengan partikel di udara.

Menurut BMKG, partikel di atmosfer seperti aerosol, debu, maupun asap dapat memengaruhi proses perambatan cahaya matahari. Partikel-partikel tersebut membuat cahaya biru lebih banyak dihamburkan, sehingga cahaya yang sampai ke mata manusia lebih didominasi warna merah atau jingga. Efek ini semakin terlihat ketika posisi matahari rendah, seperti pada pagi atau sore hari .

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata relatif lebih kaya warna merah dan jingga . Fenomena serupa juga pernah dijelaskan BMKG Palangka Raya saat matahari tampak merah pekat di wilayah tersebut pada Agustus 2026, yang dikaitkan dengan kabut asap karhutla .

Apakah Ini Tanda Kemarau Panjang?

Kekhawatiran warga bahwa fenomena ini merupakan pertanda kemarau panjang tidak sepenuhnya tanpa dasar, meskipun warna matahari bukanlah indikator langsung. BMKG telah memprediksi bahwa musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih panjang dan lebih kering dari biasanya akibat fenomena El Nino yang kuat .

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menyatakan bahwa El Nino fase sangat kuat membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan kering serta meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan . Sebanyak 451 zona musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau yang lebih kering dari normalnya .

Untuk wilayah Maluku, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah mengalami potensi kemarau yang lebih kering dari normal . Namun, prakiraan cuaca untuk Kota Ambon pada Kamis (1/10/2026) sendiri menunjukkan kondisi mayoritas cerah dengan suhu berkisar 24-30 derajat Celsius .

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melihat matahari secara langsung dengan mata telanjang, meskipun tampak redup atau berwarna merah akibat tertutup asap, karena tetap berisiko merusak penglihatan. Masyarakat juga disarankan untuk memantau informasi resmi dari kanal BMKG guna mendapatkan pembaruan terkini mengenai kondisi cuaca dan iklim di wilayah masing-masing . (Evu)