Tari Sajojo: Warisan Lirik Moi yang Meriah dari Papua Barat Daya

📅 29 September 2026
✍️ Oleh: Redaksi Lelemuku.com  ·  📰 Lelemuku.com
Tari Sajojo: Warisan Lirik Moi yang Meriah dari Papua Barat Daya

JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Tari Sajojo adalah tarian tradisional berbahasa Moi yang berasal dari daerah Sorong, Papua Barat Daya. Tarian ini dikenal sebagai tarian pergaulan yang dapat dipentaskan oleh pria maupun wanita, tua maupun muda, sehingga menjadi bagian penting dalam ekspresi budaya Papua.

Sejak lama, lirik Sajojo diciptakan oleh David Rumagesan, seorang seniman lokal yang menuliskan kisah seorang perempuan cantik dari desa yang dicintai ayah,, dan para laki‑laki desa. Meskipun gerakan tari tidak secara harfiah menggambarkan cerita tersebut, irama ceria dalam lagu menyatu dengan langkah‑langkah penari, menjadikan tarian ini sarana menyampaikan rasa kebersamaan dan kegembiraan.

Pada masa lalu, tarian ini telah menjadi elemen utama dalam berbagai acara adat, perayaan budaya, hingga hiburan rakyat. Karena sifatnya yang inklusif, Sajojo menjadi media sosial yang mempererat hubungan antar‑generasi dan antar‑kelompok, sekaligus menegaskan identitas komunitas yang punya tradisi sendiri.

Gerakan Tari Sajojo ditandai dengan lompatan energik, langkah maju‑mundur, serta pergerakan ke kiri dan kanan yang selaras dengan ketukan musik. Setiap penari berusaha meniru gerakan sesama penari sehingga tercipta kesan kompak dan dinamis. Ritme yang tegas sekaligus riang mencerminkan semangat hidup masyarakat Sorong yang telah berkembang mandiri selama berabad‑abad.

Kostum yang dikenakan hampir serupa dengan pakaian tradisional Papua lainnya, terbuat dari bahan alami seperti akar atau daun. Seiring perkembangan zaman, para penari mulai mengkreasikan kostum dengan kain berwarna cerah, menambah daya tarik visual tanpa menghilangkan ciri khas etnis. Aksesori seperti penutup kepala, kalung, serta lukisan tubuh berbentuk motif khas Papua melengkapi penampilan, menegaskan identitas budaya yang kuat.

Dalam perkembangannya, Tari Sajojo terus dilestarikan dan disesuaikan hingga kini. Berbagai variasi gerak dan kostum sering ditambahkan dalam pertunjukan, namun tetap menjaga keaslian yang menjadi jati diri tarian. Pada Mei 2018, tarian ini dipentaskan dalam acara penutupan TMMD di Kabupaten Pati oleh anggota TNI yang merupakan putra‑putri asli Papua, menandakan pengakuan nasional atas nilai budaya ini.

Signifikansi Tari Sajojo melampaui batas wilayah Papua. Sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia, tarian ini memperkaya mozaik seni bangsa, sekaligus menjadi jembatan antara tradisi timur dan jaringan maritim yang menghubungkan kepulauan. Penampilannya dalam festival budaya nasional dan promosi pariwisata membantu memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia kepada dunia, sekaligus menegaskan peran Papua dalam pembentukan identitas kebangsaan.

Sampai sekarang, Tari Sajojo tetap hidup dalam hati masyarakat Papua dan penonton di seluruh Indonesia. Keberadaannya menginspirasi generasi muda untuk terus melestarikan warisan leluhur, sambil membuka ruang kreativitas baru yang tetap menghormati akar budaya. Dengan demikian, tarian ini tidak hanya menjadi hiburan, melainkan simbol kebersamaan yang terus berdenyut sepanjang sejarah Indonesia. (Evu)