Gubernur John Tabo Menyerahkan Bantuan Studi Akhir Rp20 Miliar Lebih Kepada Mahasiswa Papua Pegunungan Di Wamena
<div class="separator" style="text-align: center;"><img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgebevWqHWMvHG-VyeEWxJloa07vXA1uu94TzHkyNMqsExSIevyp_iJrayQkibavoaXDESbaFQX7-OL7KK0xKlICUWqumIRwy2gvGbuxFhGqEEkujNf3OkZ881LobRQi0tBqm7PdhVLl24ixfiBlSexLCv_EE6QZ6wie1H6wRHg6L46J2B0Q03bq8yfgIU/s1600/11.jpg" style="max-width:100%; height:auto;" /></div><p>WAMENA, LELEMUKU.COM – Gubernur Papua Pegunungan John Tabo menyerahkan bantuan dana studi akhir dan studi khusus kepada ribuan mahasiswa se-Provinsi Papua Pegunungan di Wamena pada Senin (7/9/2026).</p><p>Total anggaran yang disalurkan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mencapai Rp20.007.500.000 yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus. Berdasarkan dokumen kegiatan, terdapat 2.428 proposal yang masuk, dengan rincian 1.674 mahasiswa ditetapkan sebagai penerima bantuan setelah melalui proses verifikasi data. Sementara itu, tercatat 333 mahasiswa semester bawah dan 421 mahasiswa berstatus drop out atau belum jelas status pendidikannya tidak masuk dalam daftar penerima.</p><p>Rincian penerima bantuan terdiri dari 71 mahasiswa D3 sebesar Rp8.000.000, lima mahasiswa D3 Bandara sebesar Rp12.500.000, dan 1.321 mahasiswa S1 sebesar Rp10.000.000. Selanjutnya, terdapat 194 mahasiswa S2 sebesar Rp20.000.000, 21 mahasiswa S3 sebesar Rp25.000.000, 12 mahasiswa luar negeri sebesar Rp25.000.000, 31 mahasiswa kedokteran sebesar Rp30.000.000, serta 19 mahasiswa pilot atau lisensi sebesar Rp30.000.000.</p><p>Penyerahan bantuan ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan serta para mahasiswa penerima manfaat. Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah otonomi baru tersebut. Selain menyalurkan bantuan studi, pemerintah juga tengah mempersiapkan pola pendidikan berbasis karakter yang direncanakan mulai diperkenalkan pada Desember 2026 untuk jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.</p><p>Gubernur Papua Pegunungan John Tabo menekankan bahwa pembangunan daerah harus diawali dengan pembangunan manusia melalui sektor pendidikan. "Pembangunan daerah harus dimulai dari pembangunan manusia. Karena itu, pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah, meskipun ada efisiensi anggaran," ujar John Tabo. Ia juga meminta para mahasiswa memanfaatkan bantuan ini dengan sungguh-sungguh agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.</p><p>Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menjelaskan bahwa bantuan ini dikhususkan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tahap akhir studi mereka, berbeda dengan program beasiswa di Dinas Pendidikan. "Bantuan hari ini saya rasa yang terbanyak di sekitar Papua. Harapan kami, dengan bantuan ini, adik-adik mahasiswa yang masih ada kewajiban menyelesaikan studi, tetapi sampai hari ini belum selesai, mungkin bisa diselesaikan di daerah masing-masing. Harapan kita seperti itu," kata Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat. Ia menambahkan bahwa dana bantuan tersebut akan ditransfer langsung ke rekening masing-masing penerima.</p><p>Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Pegunungan menyatakan pihaknya masih melanjutkan program beasiswa lama yang sebelumnya berjalan di Provinsi Papua sebelum pemekaran. "Untuk Dinas Pendidikan, program yang kita lakukan sekarang itu namanya beasiswa. Ini sebenarnya program dari Gubernur Papua, dan kami melanjutkan karena anak-anak ini belum selesai program itu. Karena terjadi pemekaran daerah otonomi baru, kami melanjutkan program tersebut," ucap Kepala Dinas Pendidikan. Ia menambahkan, program beasiswa lama ditargetkan selesai pada tahun 2026, dan pendaftaran program baru secara daring akan dibuka mulai bulan ini.</p><p>Salah satu mahasiswa penerima bantuan dari Non Kayu University, Kita Nela, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah di tengah situasi yang sulit. "Saya sendiri menyampaikan banyak terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan. Di waktu yang sangat sulit seperti saat ini, pemerintah mau membantu kami mahasiswa studi akhir untuk menyelesaikan studi kami," kata Kita Nela. Penyaluran bantuan ini diharapkan dapat berjalan transparan melalui koordinasi erat antara pemerintah, adat, dan agama dalam mengawal pembangunan sumber daya manusia di Papua Pegunungan. (Olemah)</p>