Panas Ekstrem Landa Wondama, Kadal Endemik Papua Mati dan Ancaman Kebakaran Hutan Mengintai
WASIOR, LELEMUKU.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, sepanjang Juli 2026, tidak hanya membawa suhu terik bagi warga. Musim kemarau panjang juga mengancam kelestarian satwa endemik dan memicu kekhawatiran akan kebakaran hutan di wilayah yang kaya akan situs adat dan peninggalan leluhur itu.
Suhu udara di wilayah Teluk Wondama tercatat mencapai 31 derajat Celsius, sebuah kondisi yang mematikan bagi spesies reptil endemik seperti Kadal Buaya Mata Merah (Tribolonotus gracilis). Sebuah unggahan warga di media sosial yang viral, Selasa (28/7/2026), memperlihatkan bangkai kadal yang dikenal dengan sebutan "Naga" atau "Buaya Darat" itu. Satwa yang dalam bahasa Inggris disebut Red-Eyed Crocodile Skink ini merupakan hewan asli Pulau Papua yang habitatnya berada di hutan tropis lembap. Spesies ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kesulitan bertahan hidup pada suhu di atas 30 derajat Celsius dalam waktu lama.
Informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa bangkai satwa tersebut ditemukan di seputaran Kampung Tua Wondamawi, area Ngonggoni Dusun Sagu Ramar, Wanggorei hingga Maniwi Haureponi Somambui. Kejadian ini dianggap sebagai peringatan dini akan dampak serius perubahan iklim di wilayah adat tersebut.
Selain mengancam satwa, panas ekstrem juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat adat setempat pun mengimbau agar aktivitas pembakaran lahan untuk kebun dihentikan sementara, mengingat kondisi lingkungan yang sangat kering. Mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Puncak Munuka Wondamawi yang terdapat Bulu Bambu Pusaka Wombiaki, serta puluhan situs tua lainnya.
Dewan Adat, Polres Teluk Wondama, Pemerintah Daerah Teluk Wondama, dan Polda Papua Barat secara khusus mengimbau warga untuk menghentikan pembakaran hutan saat musim panas ini. Mereka menegaskan bahwa kawasan tersebut adalah identitas dan bukti peradaban manusia pribumi yang harus dijaga kelestariannya. Imbauan untuk menjauhi pembakaran lahan juga didasari kekhawatiran akan potensi sengketa antarwarga jika api merambat dan membakar tanaman pusaka.
“Mohon jaga Api Kebun,” demikian seruan yang disampaikan oleh masyarakat adat kepada seluruh warga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat kebakaran hutan di Teluk Wondama. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan setiap titik api kepada pihak berwenang guna mencegah terjadinya bencana yang lebih luas. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri