Martha Ohee, Sosok Perempuan Sentani di Balik Lukisan Kulit Kayu yang Mendunia
SENTANI, LELEMUKU.COM - Di tepian Danau Sentani yang tenang, di Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, hiduplah seorang perempuan yang telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk melestarikan warisan budaya leluhurnya. Namanya Martha Ohee, atau yang akrab disapa Mama Martha.
Di usianya yang kini menginjak 57 tahun, ia telah menjadi ikon kerajinan kulit kayu Papua yang karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah menjejakkan kaki di lima negara.
"Puji Tuhan, mama sudah injak lima negara untuk mempromosikan produk kerajinan tangan dari kulit kayu, yakni ke Belanda, Australia, Jerman, Amerika dan PNG," katanya.
Kisah Mama Martha dimulai bukan dari kemewahan, melainkan dari dapur rumahnya dan hutan di sekitar kampung. Lahir di Asei pada 23 April 1968, ia mulai mengenal dunia kulit kayu sejak usia 13 tahun, ketika ia membantu orang tuanya mengerjakan kerajinan tradisional.
"Saat itu, mama masih berusia 13 tahun, niat sebagai seorang anak untuk membantu bapa (orang tua) mengerjakan kulit, sampai terus, hingga saat ini, mama hidup dari hasil kerajinan tangan melukis kulit kayu Khombouw," kenangnya.
Darah seni yang mengalir dari orang tuanya membentuknya hingga mampu meraih berbagai pencapaian.
"Waktu mama masih remaja, suka bantu orang tua buat kulit kayu dari situ mama mulai tekuni terus hingga sekarang, bersyukur mama bisa berjumpa Presiden sampai keliling Indonesia dan lima negara untuk promosi kulit kayu," ujarnya.
Namun, jalan yang dilalui Mama Martha tidaklah mudah. Pada masa itu, melukis di atas kulit kayu atau yang dalam bahasa setempat disebut Khombouw, adalah pekerjaan yang hanya boleh dilakukan oleh kaum pria. Mitos turun-temurun mengatakan bahwa jika perempuan melakukannya, maka anaknya kelak akan mengalami kecacatan.
Namun, setelah lulus SMA pada tahun 1986, Martha memberanikan diri untuk melawan tradisi. Ia masuk ke hutan, mencari pohon khombouw dan memikul sendiri batang kayu besar itu ke kampung. Ia memutuskan untuk menggantikan ayahnya yang sudah renta melukis.
"Sampai bahu terkelupas, itu pikul dari dalam hutan keluar," kenangnya.
Keberaniannya membuahkan hasil. Tak ada kejadian aneh yang menimpa keluarganya. Sejak saat itu, Martha Ohee tercatat sebagai perempuan Sentani pertama yang berinovasi membuat beragam kerajinan tangan berbahan dasar kulit kayu. Dari keberaniannya itulah, lahir banyak srikandi seni lukis baru melalui Sanggar Kulit Kayu dan Noken Khalkote Permai di Asei Besar.
Khombouw adalah karya seni tradisional khas Suku Sentani yang sarat akan nilai filosofis dan sakral. Bahan bakunya berasal dari pohon khombouw, yang hanya tumbuh di hutan adat setempat.
Proses pembuatannya dimulai dengan menebang pohon khusus yang kulitnya akan diolah menjadi lembaran kain kayu. Kemudian, kulit dari pohon tertentu itu dikupas menggunakan parang atau kapak besi.
Selanjutnya, kulit kayu yang telah dikupas itu ditumbuk menggunakan lempengan besi hingga melebar dan menjadi lembaran tipis. Masuk pada proses pengeringan, lembaran kulit kayu dijemur hingga kering sempurna, sebelum digunakan sebagai media untuk melukis.
Yang membuat Khombouw istimewa adalah motifnya. Motif pada lukisan kulit kayu yang digambar menggunakan pewarna alami, bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna mendalam. Bahkan, ada motif tertentu yang hanya boleh digunakan oleh seorang pemimpin adat (ondofolo). Motif buaya, misalnya, melambangkan kekuatan dan kepemimpinan.
Ketekunan Mama Martha membawanya pada berbagai pencapaian membanggakan. Prestasi paling bergengsi yang pernah ditorehkan adalah lukisan di atas kulit kayu sepanjang 100 meter pada gelaran Festival Danau Sentani tahun 2014. Lukisan yang dikerjakan bersama Agustinus Ongge dan sekitar 100 pelukis lokal lainnya ini, berhasil memecahkan rekor dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Simbol Cinta dan Filosofi Hidup dalam Noken
Salah satu produk yang paling dikenal dari Mama Martha adalah noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu. Dalam budaya Sentani, noken bukan sekadar wadah. Ia adalah simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan persatuan.
Pada perayaan Hari Noken ke-12 pada 4 Desember 2024 lalu, Mama Martha menyampaikan harapannya agar perempuan Papua terus belajar membuat noken. Ia menjelaskan bahwa pembuatan noken membutuhkan proses panjang dan penuh makna, mulai dari mencari bahan baku hingga merajutnya menjadi tas.
"Jadi bagaimana susahnya membuat noken mencari bahan baku (itu) datang sampai perendaman, pengeringan, sampai pelintirnya (hingga menjadi noken). Ada susah dan senang di sana (dalam proses pembuatan noken). Itu adalah salah satu filosofi atau ajaran yang diajarkan oleh orang tua kepada seorang perempuan," ujarnya.
Mama Martha juga mengkhawatirkan regenerasi pembuat noken. Di sanggarnya, ia secara khusus memanggil anak muda berusia 20 tahun untuk diajari menoken, karena khawatir warisan budaya tak benda yang ditetapkan UNESCO pada 2012 ini bisa hilang.
BRI dan Dukungan Perbankan
Perjalanan Mama Martha tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama perbankan. Pada tahun 2014, ia dikirim ke Belanda untuk mengikuti pameran Floriade. Pada 2019, ia terpilih sebagai salah satu pebisnis kriya terbaik dalam ajang BRICraft, yang membawanya ke ajang New York Now 2019 di Jacob K Javits Convention Center, Amerika Serikat.
Mama Martha mengaku sangat bersyukur atas dukungan Bank BRI. "Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih buat BRI yang sudah mendukung dalam usaha saya sebagai nasabah, walau pun jatuh bangun dalam membayar angsuran tapi BRI tetap mensuport saya untuk tetap menjalankan usaha saya sebagai pengrajin kulit kayu yang pertama kali keluar negeri untuk mempromosikan karya saya, yaitu di Belanda 2014 dan di Amerika 2019. Sekali lagi terima kasih banyak buat Bank BRI, tetap menjadi bank terbaik buat kami UMKM," ujarnya kepada Lelemuku pada Jumat, 10 Juli 2026 lalu.
Mama Martha mengaku sangat mengapresiasi dukungan perbankan yang telah membantunya menembus pasar internasional. Tak lupa, ia juga berharap adanya sinergi yang lebih erat lagi dengan pemerintah untuk pengembangan UMKM Papua.
"Saya berterima kasih kepada perbankan yang sudah memfasilitasi kami hingga ke luar negeri. Saya juga berharap ke depan, pemerintah bisa lebih banyak lagi melibatkan pengrajin secara langsung dalam berbagai even promosi, sehingga keahlian dan budaya kami bisa lebih dikenal," katanya.
"Saya berterima kasih kepada perbankan yang sudah memfasilitasi kami hingga ke luar negeri. Saya juga berharap ke depan, pemerintah bisa lebih banyak lagi melibatkan pengrajin secara langsung dalam berbagai even promosi, sehingga keahlian dan budaya kami bisa lebih dikenal," katanya.
Tak hanya mengandalkan pengiriman fisik ke luar negeri, Mama Martha mulai merasakan sentuhan langsung era digital dalam usaha dagangnya. Kepada wartawan, ia mengaku bahwa transformasi pembayaran melalui QRIS dan BRILink telah memberikan dampak nyata terhadap omzetnya di Galeri Khalkote Permai yang berada dekat dengan Kawasan Wisata Khalkote Sentani.
"Penjualan meningkat dan pembayaran digital juga naik sedikit," ujarnya mengungkapkan data riil di lapangan.
Ia menjelaskan, kehadiran QRIS sangat membantu kelancaran transaksi, terutama ketika pembeli datang tanpa membawa uang tunai.
"QRIS atau BRILink sangat membantu usaha saya, karena di mana seorang pembeli kalau tidak membawa uang tunai, dia langsung pakai QRIS untuk pembayaran produk yang mau dibeli," jelas Mama Martha.
Bank Indonesia (BI) mencatat sepanjang 2025 jumlah transaksi QRIS di Papua mencapai 39,479 juta transaksi dengan nilai Rp4,584 miliar. Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Faturachman menyatakan, "QRIS kini semakin diterima masyarakat Papua sebagai alat pembayaran yang mudah, cepat, dan aman, baik untuk transaksi ritel, pelaku UMKM, maupun layanan publik".
Pada triwulan I 2026, nilai transaksi QRIS di Papua dan daerah otonomi baru (DOB) tercatat mencapai Rp1,26 triliun atau tumbuh 9,03 persen secara tahunan (yoy). Jumlah merchant QRIS tumbuh 17,71 persen secara tahunan. Pada Mei 2026, nilai transaksi QRIS mencapai Rp502,4 miliar dengan volume 3,87 juta kali transaksi.
BRI sendiri berhasil meraih Juara 1 kategori Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) terbaik dalam ajang QRIS Merchant Super League 2026 yang diselenggarakan BI Provinsi Papua.
Namun, di balik kemudahan itu, ia menyebut adaptasi QRIS sebagai tantangan terbesar yang dihadapi di Kampung Asei sebab sebagian besar orang di Kabupaten Jayapura belum terbiasa menggunakan QRIS. "Masih banyak mengandalkan uang tunai," akunya.
Hal ini sejalan dengan catatan BI bahwa sejumlah wilayah seperti Papua Pegunungan dan Papua Tengah belum optimal memanfaatkan QRIS akibat keterbatasan infrastruktur jaringan dan kondisi geografis.
Yang menarik, Mama Martha mengungkapkan sisi lain dari manfaat pembayaran digital yang kerap luput dari perhatian, yakni aspek manajemen keuangan rumah tangga.
"Sangat penting sekali untuk kita UMKM, karena kalau uang cash (tunai) kadang kita pakai untuk kebutuhan keluarga semua, kita tidak pisahkan uang usaha. Kalau sekarang sudah ada QRIS, jadi langsung di-transfer ke rekening, jadi aman," tuturnya.
Dengan sistem transaksi yang tercatat rapi di rekening, ia merasa usaha kerajinan kulit kayunya kini lebih terstruktur. Sistem ini dinilainya sangat krusial, terutama untuk mendukung penjualan produk keluar Papua hingga ke mancanegara, karena arus uang masuk bisa terpantau dengan jelas tanpa tercampur dengan uang belanja harian.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua Warsono menegaskan, penggunaan QRIS membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan keamanan transaksi tanpa menggunakan uang tunai. BI juga menyatakan bahwa dengan penggunaan QRIS, pelaku UMKM dapat meningkatkan kredibilitas usahanya karena memiliki rekam jejak transaksi yang jelas sehingga menjadi pertimbangan lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan.
Kini, usaha Mama Martha telah berkembang pesat. Galeri Kalkhote Permai mempekerjakan sekitar 20 orang, mayoritas mama-mama janda dari Asei dengan pendapatan yang mencukupi kehidupan mereka. Pemerintah setempat juga ikut berpartisipasi dengan menjadikan seni lukis di atas kulit kayu para mama itu sebagai produk kerajinan tangan unggulan daerah.
"Di Kampung Asei ada Mama Martha Ohee salah satu perajin binaan kami yang sudah mempromosikan kerajinan kulit kayu hingga mancanegara untuk mengharumkan nama Kabupaten Jayapura," ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Jayapura Haryanto.
Ia juga terus berkreasi membuat produk baru, dari kartu ucapan seharga Rp5.000 hingga lukisan wajah yang dibandrol Rp5 juta. Dengan segala pencapaiannya, Mama Martha bukan hanya menjadi pengusaha sukses, tetapi juga pahlawan bagi komunitasnya dan pelestari budaya yang tak kenal lelah.
Di usia yang tak lagi muda, Mama Martha tetap bersemangat. Ia menyiapkan generasi penerus di sanggarnya. "Mama juga bagian dari binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Jayapura, mama mendapatkan bantuan mesin jahit dan beberapa bahan untuk menunjang kegiatan kerajinan di galeri," ujarnya.
Baginya, yang terpenting bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan yang hari ini masih tersimpan dalam tangan dan ingatannya dapat terus hidup, bukan hanya sebagai warisan museum, tetapi sebagai keahlian yang terus dipraktikkan.
Dari seorang gadis yang berani melawan tradisi hingga menjadi ikon budaya yang mendunia, Mama Martha Ohee telah membuktikan bahwa ketekunan, keberanian dan cinta pada budaya mampu mengubah kehidupan serta membawa nama Indonesia ke panggung internasional. (Laura Sobuber)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


