Di Era Digital, Juneka Subaihul Mufid Tegaskan Kualitas Berita Tetap Berada di Tangan Jurnalis


SURABAYA, LELEMUKU.COM – Di tengah derasnya arus transformasi digital, media massa dituntut terus beradaptasi agar tetap relevan. Namun, secanggih apa pun teknologi berkembang, kualitas jurnalisme tetap ditentukan oleh manusia. Pesan inilah yang dibagikan Kepala Kompartemen Metropolis Jawa Pos, Juneka Subaihul Mufid, saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema "Transformasi Industri Media Massa di Era Perkembangan Teknologi Digital" yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Dalam kegiatan yang diikuti para jurnalis di Jayapura, Juneka berbagi pengalaman bagaimana Jawa Pos terus berinovasi agar mampu bertahan di tengah perubahan perilaku pembaca yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform digital. Jawa Pos yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1949 kini memiliki lebih dari 360 ribu pembaca per hari dengan 13 grup jaringan dan lebih dari 70 entitas media.

"Kami berbagi bagaimana Jawa Pos bisa tetap eksis di era digital, termasuk strategi yang kami lakukan untuk beradaptasi dengan perubahan. Pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi media-media lokal di Papua agar terus berkembang dan semakin bergairah," ujar Juneka pada Senin, 28 Juli 2026.

Menurutnya, media lokal memiliki peran penting sebagai pengawal pembangunan daerah. Karena itu, kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus dibarengi dengan komitmen menjaga kualitas jurnalisme dan kepercayaan publik. Pada 2025, Jawa Pos meraih penghargaan Best National Media 2025 dari Serikat Perusahaan Pers atas keunggulan dalam jurnalisme, inovasi, dan kepercayaan pembaca.

Salah satu topik yang paling banyak menarik perhatian peserta adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam proses produksi berita. Ia mengatakan AI merupakan alat yang dapat membantu kerja jurnalistik, tetapi bukan pengganti wartawan.

"AI itu sifatnya hanya pendamping. Di Jawa Pos, kami memanfaatkannya untuk membantu pengecekan ejaan, tata bahasa, atau memperbaiki kesalahan penulisan. Tetapi isi berita, data, dan unsur 5W+1H tetap harus diperoleh langsung oleh wartawan," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa proses peliputan, verifikasi fakta, hingga menentukan sudut pandang pemberitaan tidak bisa diserahkan kepada teknologi. Seorang wartawan tetap harus turun ke lapangan, melakukan konfirmasi kepada narasumber, serta memastikan setiap informasi telah memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.

"AI tidak memiliki tanggung jawab etik. Wartawan yang terikat dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers. Karena itu, keputusan editorial, verifikasi data, hingga memastikan berita memenuhi prinsip cover both sides tetap menjadi tanggung jawab jurnalis," pesan Juneka. (Laura)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya