Warga Nigeria Bersiap Pulang Kampung saat Serangan Xenofobia di Afrika Selatan Kian Memburuk

Warga Nigeria Bersiap Pulang Kampung saat Serangan Xenofobia di Afrika Selatan Kian Memburuk

JOHANNESBURG, LELEMUKU.COM – Warga negara Nigeria yang tinggal di Afrika Selatan dilaporkan mulai bersiap kembali ke tanah air setelah gelombang baru serangan xenofobia yang menyasar warga asing di negara tersebut terus memburuk. 

Pemerintah Nigeria melalui kedutaan besarnya di Pretoria dan konsulat jenderal di Johannesburg, bekerja sama dengan Asosiasi Warga Nigeria di Afrika Selatan (NICASA), telah menyediakan penerbangan repatriasi gratis bagi warga Nigeria yang ingin meninggalkan Afrika Selatan secara permanen.

Presiden NICASA, Frank Onyekwelu, mengonfirmasi bahwa banyak warga Nigeria telah menyatakan ketertarikan untuk kembali melalui program ini. 

"Konsulat Nigeria bersama NICASA telah menawarkan penerbangan repatriasi gratis bagi warga Nigeria yang ingin meninggalkan Afrika Selatan secara permanen, dan proses ini sedang berlangsung, karena kami telah mencatat banyak warga Nigeria yang memberi sinyal ingin pulang," kata Frank Onyekwelu. 

Ia juga mengakui bahwa selain tawaran repatriasi, saat ini belum ada sistem dukungan terstruktur yang tersedia bagi warga Nigeria yang terkena dampak.

Serangan yang meluas ini telah terjadi di sejumlah kota besar seperti Pretoria, Johannesburg, Durban, East London, dan sebagian wilayah KwaZulu-Natal, yang mengakibatkan penjarahan, penghancuran properti, serta kekerasan terhadap warga asing. Kelompok-kelompok seperti Operation Dudula dan March and March Movement menuduh para migran dari negara-negara Afrika lainnya, termasuk Nigeria, Ghana, Zimbabwe, Mozambik, dan Somalia, menyebabkan pengangguran dan kejahatan. 

Banyak pemilik bisnis asal Nigeria dilaporkan telah menutup toko mereka dan tinggal di dalam rumah untuk menghindari serangan. Seorang pengusaha restoran di Braamfontein, Yemisi Adewale, menceritakan pengalaman pahitnya, "Mereka secara spesifik menargetkan toko, supermarket, mal, dan bisnis lain milik warga Nigeria dan Ghana. Tujuan mereka hanya untuk menjarah dan menghancurkan barang-barang kami. Polisi hadir, tapi kehadiran mereka tidak menghentikan para penyerang."

Komisi Warga Nigeria di Diaspora (NIDCOM) di bawah kepemimpinan Abike Dabiri-Erewa juga telah mendesak pemerintah Afrika Selatan untuk mengambil langkah-langkah tegas guna melindungi warga Nigeria dan imigran kulit hitam lainnya. Dalam sebuah pernyataan pada 29 April 2026, NIDCOM menyatakan situasi di lapangan terus memburuk meskipun ada keterlibatan diplomatik sebelumnya. Mereka menuntut peningkatan patroli polisi di daerah-daerah rawan, penangkapan dan penuntutan cepat terhadap pelaku kekerasan, serta pembentukan forum keamanan komunitas bersama. NIDCOM juga menolak keras profilisasi dan generalisasi yang menstigmatisasi seluruh warga Nigeria sebagai pelaku kejahatan, dengan tegas menyatakan bahwa kejahatan tidak mengenal kewarganegaraan.

Dua warga Nigeria tewas dalam insiden terpisah yang terkait dengan ketegangan ini. Konsul Jenderal Nigeria di Johannesburg, Ninikanwa Okey-Uche, mengidentifikasi para korban sebagai Amaramiro Emmanuel dan Ekpenyong Andrew. Emmanuel meninggal akibat luka-luka yang dideritanya setelah diduga dipukuli oleh personel Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan (SANDF) pada 20 April 2026. Adapun Andrew, ia ditangkap pada 19 April 2026 di kawasan Booysens, Pretoria, setelah diduga terlibat cekcok dengan anggota Polisi Metropolitan Tshwane, dan jasadnya kemudian ditemukan di Kamar Mayat Pusat Pretoria. 

Konsul Jenderal Okey-Uche telah menyerukan investigasi menyeluruh dan transparan serta membawa para pelaku ke pengadilan. "Tidak peduli apa pun tuduhannya, ada proses hukum. Setiap orang harus dianggap tidak bersalah dan diberikan peradilan yang adil di pengadilan. Tidak seorang pun boleh main hakim sendiri," tegasnya.

Menanggapi memburuknya situasi, Pemerintah Federal Nigeria telah memanggil Penjabat Komisaris Tinggi Afrika Selatan untuk pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan pada Senin, 4 Mei 2026, di ibu kota Abuja. Langkah diplomatik ini menyusul gelombang protes anti-asing yang dilaporkan disertai dengan insiden kekerasan dan penghancuran bisnis milik warga asing, termasuk warga Nigeria. Di sisi lain, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dalam pidato peringatan Hari Kebebasan pada 27 April 2026 di Bloemfontein, mengecam keras aksi kekerasan terhadap warga asing dan memperingatkan warganya agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. 

"Kita tidak boleh membiarkan keprihatinan sah tentang imigrasi ilegal memicu xenofobia terhadap sesama warga Afrika," tegas Ramaphosa, seraya mengingatkan bahwa banyak negara Afrika telah mendukung perjuangan anti-apartheid Afrika Selatan di masa lalu. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya