Spirit Airlines Tutup Operasi Karena Gagal Ditalangi 500 Juta Dollar oleh Pemerintahan Donald Trump

Spirit Airlines Tutup Operasi Karena Gagal Ditalangi 500 Juta Dollar oleh Pemerintahan Donald Trump

WASHINGTON, LELEMUKU.COM – Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, secara resmi menghentikan seluruh operasinya pada Sabtu (2/5/2026). Langkah dramatis ini diambil setelah upaya negosiasi penyelamatan dengan pemerintah Presiden Donald Trump gagal total, mengakibatkan semua penerbangan dibatalkan dan layanan pelanggan ditutup permanen. Keputusan ini menjadikan Spirit sebagai maskapai pertama yang kolaps akibat perang Iran.

Manajemen maskapai bernyala kuning itu menyampaikan pernyataan yang dirilis Sabtu dini hari, bahwa ini merupakan penutupan operasional secara bertahap dan teratur. “Dengan sangat menyesal, pada 2 Mei 2026, Spirit Airlines memulai penghentian operasional secara bertahap yang berlaku segera. Kepada para tamu: semua penerbangan telah dibatalkan, dan layanan pelanggan tidak lagi tersedia,” demikian bunyi pengumuman di situs web perusahaan. Kebijakan ini membuat ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara.

Penutupan ini terjadi setelah upaya negosiasi talangan dana senilai 500 juta dolar AS (sekitar Rp8,15 triliun) dari pemerintahan Trump gagal. Kesepakatan tersebut gagal karena para kreditor utama, termasuk Citadel milik Ken Griffin dan Ares Management, menolak skema yang akan memberikan pemerintah kendali hingga 90 persen saham Spirit jika perusahaan selamat dari kebangkrutan. Menteri Perhubungan AS Sean Duffy mengkritik rencana itu sebagai buang-buang uang. Beberapa kreditor bahkan menggambarkan upaya penyelamatan ini seperti berusaha menghidupkan kembali mayat.

Presiden dan CEO Spirit, Dave Davis, mengungkapkan bahwa meskipun pada Maret 2026 mereka telah mencapai kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi, kenaikan tajam dan berkelanjutan dalam harga bahan bakar jet dalam beberapa pekan terakhir akhirnya tidak meninggalkan pilihan. “Mempertahankan bisnis membutuhkan ratusan juta dolar likuiditas tambahan yang tidak dimiliki Spirit dan tidak dapat diperoleh. Ini sangat mengecewakan,” ujar Davis seperti dikutip dalam siaran pers.

Para analis menyebut lonjakan biaya bahan bakar selama perang Iran sebagai paku terakhir peti mati Spirit. Sejak konflik AS-Israel dan Iran meletus pada akhir Februari, harga bahan bakar jet meroket hingga dua kali lipat. Bagi maskapai hemat seperti Spirit, kenaikan ini adalah pukulan telak karena mereka tidak bisa menaikkan tarif tiket terlalu tinggi tanpa kehilangan basis pelanggan mereka yang sensitif terhadap harga.

Penutupan Spirit berdampak luas, diperkirakan 17.000 karyawan kehilangan pekerjaan. Sekitar 1,8 juta penumpang yang memegang tiket penerbangan Spirit sepanjang Mei 2026 kini terlantar. Maskapai rival seperti American Airlines, Frontier, JetBlue, dan Southwest telah menawarkan tarif penyelamatan untuk membantu penumpang. Spirit juga memproses pengembalian dana secara otomatis untuk tiket yang dibeli langsung melalui maskapai.

Kabarnya, penerbangan terakhir Spirit Airlines adalah Penerbangan 1833 dari Detroit ke Dallas yang mendarat Sabtu dinihari. Sebagian besar karyawan diberitahu tentang penutupan melalui pemberitaan media. Penutupan Spirit Airlines menandai berakhirnya perjalanan maskapai yang telah beroperasi selama 34 tahun dan mendobrak industri dengan model tarif super murahnya. Spirit merupakan maskapai terbesar kesembilan di AS pada Desember 2025 dan menguasai sekitar lima persen lalu lintas penerbangan domestik. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya