Pela Gandong: Kunci Harmoni Sosial dan Resolusi Konflik di Maluku

Pela Gandong: Kunci Harmoni Sosial dan Resolusi Konflik di Maluku

AMBON, LELEMUKU.COM – Di tengah hingar-bingar dunia yang terus bergolak oleh konflik identitas, sebuah negeri kepulauan di timur Indonesia menyimpan resep rahasia perdamaian yang telah bertahan selama berabad-abad. Resep itu bernama Pela Gandong. Bukan sekadar tradisi, ia adalah nadi yang memompa kehidupan rukun ke setiap sudut masyarakat Maluku.

Pada suatu sore di bulan Mei 2024, puluhan warga dari tiga negeri berbeda di Kota Ambon duduk bersila di tanah. Mereka adalah warga Negeri Batumerah, Negeri Passo, dan Negeri Ema. Di hadapan mereka terbentang aneka ragam sajian tradisional Maluku. Mereka tidak sedang berpesta. Mereka sedang menjalankan tradisi makan patita, yaitu makan bersama sebagai wujud pengikat tali persaudaraan .

Tiga negeri ini terikat oleh hubungan Pela Gandong, sebuah ikatan persaudaraan sejati yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Penjabat Gubernur Maluku saat itu, Sadali Ie, yang hadir membuka acara tersebut, menyampaikan bahwa momen seperti ini adalah modal dasar bersama untuk saling menghidupi, bukan hanya dalam perbedaan, tetapi juga dalam persaudaraan .

Pela Gandong bukanlah konsep yang lahir kemarin sore. Secara definitif, Pela diartikan sebagai suatu relasi perjanjian persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau berbeda dan kadang menganut agama yang berlainan. Sedangkan Gandong bermakna saudara kandung . Perjanjian ini diikat dalam sumpah yang tidak boleh dilanggar. Di masa lalu, pada saat upacara sumpah, campuran tuak dan darah dari tubuh masing-masing pemimpin negeri akan diminum bersama sebagai tanda komitmen seumur hidup .

Apa isi perjanjian tersebut? Ada empat hal pokok yang mendasarinya. Pertama, negeri-negeri yang ber-Pela wajib saling membantu pada kejadian genting, seperti perang atau bencana alam. Kedua, mereka juga wajib bahu-membahu saat melaksanakan kegiatan kepentingan umum, termasuk pembangunan sekolah, masjid, dan gereja . Inilah mengapa tidak aneh jika masyarakat Muslim di suatu negeri ikut serta dalam peletakan batu pertama gereja di negeri saudaranya, dan sebaliknya.

Ketiga, jika seseorang sedang mengunjungi negeri yang ber-Pela, maka orang-orang di negeri itu wajib memberinya makanan. Bahkan, tamu yang se-Pela tidak perlu meminta izin untuk membawa pulang hasil bumi yang menjadi kesukaannya . Ini adalah manifestasi nyata dari ungkapan leluhur Maluku yang terkenal: "Ale rasa beta rasa" (kamu merasa, saya merasa) dan "Potong di kuku rasa di daging" .

Keempat, hubungan ini begitu sakral sehingga dua orang yang terikat Pela dilarang menikah. Mereka dianggap masih satu darah. Konon, siapa yang melanggar akan mendapat hukuman dari nenek moyang . Ini menunjukkan bahwa Pela Gandong bukan sekadar hubungan seremonial, melainkan ikatan kosmologis yang mengatur seluruh sendi kehidupan.

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa nilai Pela Gandong bukan sekadar warisan budaya, tetapi modal sosial yang harus terus dirawat dan diaktualisasikan untuk memperkuat toleransi dan mencegah konflik sosial . Penegasan ini disampaikannya saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kota Ambon dalam agenda penguatan toleransi lintas iman .

Ketika konflik horizontal melanda Maluku pada tahun 1999 hingga 2002, negeri-negeri yang terikat Pela Gandong terbukti menjadi zona yang relatif aman. Antropolog Amerika, Dieter Bartels, yang meneliti Pela di Maluku, mendefinisikan ikatan ini sebagai model persahabatan atau sistem persaudaraan yang dikembangkan antar seluruh penduduk asli dari dua negeri atau lebih . Saat konflik memecah belah, ikatan leluhur inilah yang menjadi jangkar keselamatan.

Ungkapan "Sagu salempeng dipatah dua" (satu patah sagu dibagi dua) menjadi spirit bahwa semua adalah saudara, untuk saling memahami, saling mempercayai, saling mencintai, saling menopang, saling membanggakan, dan saling menghidupi . Inilah filosofi "Hidup Orang Basudara" yang telah menjadi identitas kolektif masyarakat Maluku.

Kekuatan Pela Gandong bahkan melampaui batas-batas geografis yang jauh. Masyarakat Nusalaut dan Ambalau, misalnya, memiliki ikatan persaudaraan yang begitu kuat sehingga dijuluki sebagai "laboratorium perdamaian umat beragama di Maluku" . Dalam sebuah Halal Bi Halal yang digelar di Gedung Islamic Center Waihaong, Ambon, pada April 2026, hadir sekitar 800 orang dari berbagai latar belakang.

Sekretaris Jenderal Presidium Nusamba Maluku, Yani Parinussa, menjelaskan makna mendalam dari pertemuan tersebut. "Ini bukan hanya pertemuan fisik, tetapi bagaimana katong tetap menjaga kebersamaan, meski dalam perjalanan pasti ada perbedaan," ujarnya . Acara tersebut juga diisi dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dari 14 negeri di wilayah Nusalaut dan Ambalau, sebagai bukti bahwa kepedulian sosial tidak mengenal batas agama .

Para akademisi pun telah lama melirik kekuatan lokal ini. Sebuah penelitian dari Fakultas Hukum Universitas Pattimura yang terbit pada tahun 2024 menyimpulkan bahwa Pela Gandong tidak hanya dapat digunakan sebagai resolusi konflik, tetapi juga sebagai alat untuk mengurangi kemiskinan. Ikatan ini menciptakan hubungan kekerabatan antara masyarakat yang tidak memiliki latar belakang keturunan yang sama, membangun hubungan kerja sama yang saling membantu hingga lintas generasi .

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Pela Gandong terus beradaptasi. Pemerintah Provinsi Maluku menggencarkan temu tokoh lintas agama sebagai wadah strategis membangun rasa saling percaya serta menjaga stabilitas sosial daerah . Tokoh agama dipandang sebagai pilar utama dalam menjaga kedamaian, sekaligus teladan persaudaraan sejati bagi generasi muda Maluku.

Jika dunia mencari contoh nyata tentang bagaimana perbedaan agama, suku, dan budaya dapat menjadi kekuatan pemersatu, mereka bisa berkaca pada Maluku. Laboratorium perdamaian ini telah berjalan selama ratusan tahun, dan resepnya sederhana: akui semua orang sebagai saudara. Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah tua di negeri kepulauan itu, "Sapa lai yang mau bangun Maluku kalau bukan ale deng beta" (siapa lagi yang mau membangun Maluku kalau bukan kamu dan saya) . (Albert Batlayeri)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya