Kasus Suspek Hantavirus di Yogyakarta Negatif, Kemenkes Catat 23 Kasus Positif Sejak 2024 di 9 Provinsi

YOGYAKARTA, LELEMUKU.COM – Kekhawatiran warga Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkait dugaan penularan virus Hanta akhirnya terjawab. Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo memastikan bahwa satu warga yang sebelumnya berstatus suspek dinyatakan negatif terinfeksi hantavirus berdasarkan hasil uji laboratorium Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, menjelaskan bahwa hasil laboratorium suspek tersebut telah keluar dua hari lalu dan dinyatakan negatif. “Iya, (hasilnya) negatif. Ini informasi dari Kemenkes, Dinas Kesehatan DIY sudah klarifikasi ke pusat. Jadi di Kulon Progo tidak ada kasus di manusia yang positif hantavirus,” kata Susilaningsih di kantornya pada Minggu (10/5/2026). 

Meski demikian, ia mengimbau warga tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan agar tikus sebagai perantara penularan tidak masuk ke rumah. “Penularan bisa lewat luka, kencing tikus, dan sebagainya,” jelasnya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hantavirus bukanlah penyakit baru di Indonesia. Sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, terdapat 23 kasus konfirmasi positif yang tersebar di sembilan provinsi. 

DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, masing-masing enam kasus. Jawa Barat menyusul dengan lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten masing-masing melaporkan satu kasus.

Secara kumulatif, Kemenkes telah memantau 251 kasus suspek. Dari jumlah tersebut, 23 dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam tahap pemeriksaan, dan tiga lainnya tidak dapat diambil spesimennya. 

Data historis menunjukkan bahwa pada periode 2013-2016, melalui kerja sama penelitian dengan Amerika Serikat, tercatat 39 kasus hantavirus di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa virus tersebut bukan pendatang baru dan sudah lama dikenal dalam dunia medis.

Pakar infeksi tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dominicus Husada, dalam media briefing Jumat (8/5/2026) menekankan bahwa jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan virus Andes yang tengah menjadi perbincangan akibat wabah di kapal pesiar MV Hondius. 

“Virus Andes ini tidak ada di Indonesia. Kita belum pernah menemukannya di sini,” ujar Dominicus. 

Ia menjelaskan bahwa penularan hantavirus di Indonesia berasal dari hewan pengerat seperti tikus, bukan antarmanusia, sehingga risiko penyebaran luas masih tergolong rendah.

Masyarakat diimbau tidak panik namun tetap waspada. Langkah pencegahan utama adalah memutus rantai kontak dengan tikus atau celurut dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. 

Pemerintah terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), mengawasi pelaku perjalanan dari negara terjangkit, serta menggalakkan edukasi PHBS. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya