Astra Agro Lestari Tbk, Raja Sawit RI dengan Lahan Empat Kali Luas Jakarta
JAKARTA, LELEMUKU.COM – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), anak usaha PT Astra International Tbk, mengelola total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 284.831 hektare atau setara empat hingga lima kali luas DKI Jakarta.
Perusahaan yang didirikan pada 3 Oktober 1988 dengan nama PT Suryaraya Cakrawala ini berganti nama menjadi PT Astra Agro Niaga pada 1989. Perseroan sempat mengelola perkebunan teh dan kakao di Jawa Tengah pada 1990 sebelum akhirnya memfokuskan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit.
PT Astra Agro Lestari Tbk berkantor pusat di Jalan Puloayang Raya, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Perusahaan ini tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia pada 9 Desember 1997 dengan kode emiten AALI.
Struktur kepemilikan AALI didominasi oleh PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham pengendali dengan total porsi 79,68 persen, terdiri dari 340.510.927 saham atau 17,69 persen dan 1.193.171.513 saham atau 61,99 persen. Masyarakat pemegang saham warkat menguasai 17,7 persen, sementara masyarakat non warkat memiliki 2,62 persen saham.
Jajaran direksi PT Astra Agro Lestari Tbk dipimpin oleh Djap Tet Fa sebagai Presiden Direktur. Ia didampingi oleh Widayanto, Tingning Sukowignjo, Arief Catur Irawan, Bandung Sahari, Veronica Lusi Herdiyanti, dan Muhammad Guruh sebagai direktur. Sementara itu, jajaran komisaris diketuai oleh Santosa sebagai Presiden Komisaris, bersama Johannes Loman sebagai komisaris, serta Ratna Wardhani dan Aridono Sukmanto sebagai komisaris independen.
PT Astra Agro Lestari Tbk memiliki bidang usaha utama di bidang perkebunan pertanian. Perusahaan tercatat dalam Sektor Barang Konsumen Primer dengan Subsektor Makanan dan Minuman, serta Industri Produk Makanan Pertanian dan Subindustri Perkebunan dan Tanaman Pangan.
Dari sisi operasional, Astra Agro mengelola total lahan perkebunan seluas 280.325 hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sekitar 74 persen merupakan kebun inti seluas 208.063 hektare, sedangkan 26 persen merupakan kebun plasma seluas 72.262 hektare. Hingga 2025, tanaman sawit yang telah menghasilkan mencapai 265.490 hektare. Perusahaan juga memiliki 32 unit pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 1.655 ton Tandan Buah Segar per jam, serta dua unit pabrik penyulingan CPO dengan kapasitas 3.000 ton per hari.
Astra Agro secara rutin melaksanakan program replanting atau peremajaan kelapa sawit setiap tahunnya seluas 8.000 hektare untuk memperbarui tanaman dan meningkatkan hasil buah kelapa sawit di masa mendatang. Perusahaan juga mengembangkan lahan pembibitan seluas 72 hektare dengan kapasitas tampung mencapai 500.000 bibit kelapa sawit.
Dalam transformasi digital, Astra Agro mengembangkan Plantation Information Management System (PIMS) sebagai tulang punggung digitalisasi, serta sistem AMANDA dan DINDA untuk analisis produktivitas harian. Perusahaan juga menerapkan drone monitoring dan pemetaan lapangan digital berbasis citra satelit, serta aplikasi SISKA 2.0 untuk mempermudah transaksi TBS dari pihak ketiga.
Presiden Direktur Astra Agro, Djap Tet Fa, menyatakan bahwa digitalisasi bertujuan mengintensifikasikan lahan sekaligus memperkuat praktik perkebunan yang berkelanjutan.
"Melalui digitalisasi, kami berupaya mengintensifikasikan lahan sekaligus memperkuat praktik perkebunan yang berkelanjutan," ujar Djap Tet Fa.
Komitmen keberlanjutan Astra Agro diwujudkan melalui Astra Agro Sustainability Aspiration 2030 yang mencakup 12 inisiatif dalam strategi Triple-P Roadmap, yaitu Portfolio, People, dan Public Contribution. Perusahaan menjadi salah satu yang pertama memperoleh sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada 2012, dan mayoritas anak perusahaan saat ini telah tersertifikasi ISPO. Sejumlah anak perusahaan juga telah memperoleh sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).
Direktur Astra Agro Lestari, Bandung Sahari, mengatakan digitalisasi pada sektor perkebunan bertujuan memperkuat ekosistem agribisnis yang inklusif.
"Oleh karena itu, penting bagi Astra Agro untuk terus menunjukkan komitmen dengan memastikan bahwa seluruh sumber pasokannya berasal dari sumber yang bertanggung jawab," ujar Bandung Sahari.
Atas komitmen tata kelola dan keberlanjutannya, Astra Agro meraih penghargaan Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 dari Tempo Data Science bersama Transparency International Indonesia dan Institute for Strategic Initiatives. Penghargaan ini mencakup empat dimensi penilaian, yakni Bisnis Berintegritas, Lingkungan, Sosial HAM, dan Ketahanan Korporasi.
Dari sisi kinerja keuangan, Astra Agro membukukan laba bersih sebesar Rp1,47 triliun sepanjang 2025, tumbuh 28,5 persen secara tahunan. Produksi CPO mencapai sekitar 1,24 juta ton atau naik 6 persen, sementara produksi kernel meningkat 8 persen menjadi 252 ribu ton. Pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp28,7 triliun, meningkat 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2026, volume penjualan CPO dan derivatif naik 6,3 persen dan penjualan kernel serta derivatif naik 9,8 persen secara tahunan.
Direktur AALI Tingning Sukowignjo menyampaikan bahwa perseroan optimistis harga CPO akan cukup supportif sepanjang 2026 dengan kondisi permintaan dan kebutuhan yang relatif seimbang.
"Kendati demikian, faktor kondisi cuaca dan usia tanaman masih menjadi komponen utama yang akan mempengaruhi pertumbuhan produksi," ujar Tingning Sukowignjo.
Informasi lebih lanjut mengenai PT Astra Agro Lestari Tbk dapat diakses melalui situs resmi www.astra-agro.co.id, email ke [email protected], atau melalui telepon di (021) 461-6555. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
