Asad Aras Muhammad, Aktivis Spirit of Aqsa yang Ditahan Militer Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza
JAKARTA, LELEMUKU.COM – Asad Aras Muhammad, aktivis kemanusiaan muda asal Sulawesi Selatan yang didelegasikan oleh lembaga Spirit of Aqsa dalam aliansi Global Peace Convoy Indonesia, menjadi salah satu dari sembilan Warga Negara Indonesia yang ditahan oleh militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan internasional menuju Gaza. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah mengumumkan pembebasan seluruh relawan termasuk Asad pada Senin (19/5/2026) dan saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke tanah air.
Asad Aras Muhammad berasal dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Ia didelegasikan oleh Spirit of Aqsa, sebuah lembaga kemanusiaan Indonesia yang berfokus pada edukasi dan penyaluran bantuan untuk Palestina. Dalam misi Global Sumut Flotilla 2.0, ia bertugas mengawal ratusan ton bantuan logistik, medis, dan pangan yang diangkut oleh gugus kapal sipil internasional menembus blokade laut Gaza.
Asad bertolak dari Pelabuhan Albatros, Marmaris, Turki pada Kamis, 14 Mei 2026 menggunakan Kapal Kasr-1 yang juga ditulis Ksar-i Sadabad. Di dalam kapal tersebut, Asad berada satu tim dengan delegasi Indonesia lainnya, yaitu Hendro Prasetyo yang mewakili lembaga SMART 171.
Sebelum ditangkap, Asad sempat memberikan laporan situasi bahwa tanda-tanda pencegatan sudah terbaca sejak Ahad malam. Rombongan sempat memberlakukan sistem jaga malam untuk memantau pergerakan drone dan radar militer Israel.
Pada Selasa sore, 19 Mei 2026, Kapal Kasr-1 dikepung dan dibajak secara paksa oleh Angkatan Laut Israel di perairan internasional, sekitar seratus mil laut sebelum mencapai pesisir Gaza. Seluruh komunikasi langsung diputus total dan mereka dibawa ke pusat penahanan Israel.
Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan pihak Global Peace Convoy Indonesia per Kamis malam, 21 Mei 2026, Asad Aras Muhammad bersama delapan WNI lainnya kini telah resmi dibebaskan dari tahanan militer Israel. Asad beserta seluruh rombongan delegasi kemanusiaan dan jurnalis Indonesia dilaporkan berada dalam kondisi sehat. Mereka langsung dideportasi keluar dari wilayah Israel dan diterbangkan menuju Istanbul, Turki.
Saat ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia Ankara tengah mendampingi proses administrasi dan pemulangan Asad menuju kampung halamannya di Sinjai, Sulawesi Selatan. Pihak keluarga di Sinjai menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kabar keselamatan ini.
Kementerian Luar Negeri melalui Juru Bicara Yvonne Mewengkang mengecam keras tindakan militer Israel dan berkoordinasi dengan jaringan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Kairo, Roma, Amman, dan Kantor Jasa Konsuler Republik Indonesia di Istanbul. Pemerintah Indonesia juga menyampaikan apresiasi tertinggi kepada Pemerintah Turki yang aktif memfasilitasi proses pemulangan.
Indonesia mengecam keras perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama ditahan, dan menilai hal tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Pemerintah memastikan akan terus mengawal proses ini hingga seluruh WNI tiba di tanah air dengan selamat.
Kesembilan WNI yang ditangkap adalah Andre Prasetyo Nugroho jurnalis TV Tempo dari Kapal Ozgurluk, Bambang Noroyono jurnalis Republika dari Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah jurnalis Republika dari Kapal Ozgurluk, Rahendro Herubowo jurnalis iNews TV dari Kapal Ozgurluk, Andi Angga Prasadewa aktivis kemanusiaan dari GPCI Rumah Zakat dari Kapal Josef, Herman Budianto Sudarsono dari GPCI Dompet Dhuafa Kapal Zapyro, Ronggo Wirasanu dari GPCI Dompet Dhuafa Kapal Zapyro, Asad Aras Muhammad dari GPCI Spirit of Aqso Kapal Kasr-1, dan Hendro Prasetyo dari GPCI SMART 171 Kapal Kasr-1. (Roe)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
