Alice Springs Bakal Diguncang Kekerasan Lebih Lanjut
ALICE SPRINGS, LELEMUKU.COM – Kota pedalaman Alice Springs di Australia terancam mengalami gelombang kekerasan baru setelah kerusuhan massal yang dipicu oleh penangkapan tersangka pembunuh seorang gadis kecil pribumi berusia lima tahun. Jefferson Lewis (47) resmi didakwa dengan satu tuduhan pembunuhan dan dua tuduhan kasus pencabulan setelah mengakibatkan tewasnya Kumanjayi Little Baby, demikian nama panggilan korban, Kamis (29/4/2026).
Warga setempat yang marah menginginkan hukuman tradisional "payback" atau ganti rugi alih-alih proses hukum modern, sehingga memicu bentrokan yang merusak kota ini.
Kerusuhan terjadi Kamis (29/4/2026) malam, setelah seorang massa menghajar Lewis hingga tidak sadarkan diri ketika ia muncul di kamp Charles Creek. Ketika aparat mengevakuasi dia ke Rumah Sakit Alice Springs, sekitar 400 penduduk lokal yang murka mengikuti dan mengepung fasilitas tersebut.
Polisi mengatakan massa membakar mobil polisi, merusak empat ambulans, dan menjarah dua bisnis hingga menyebabkan kerugian ditaksir melebihi 200.000 dolar Australia atau sekitar Rp2,1 miliar.
Komisaris Polisi Northern Territory, Martin Dole, mengecam aksi anarkis tersebut. "Apa yang akan Anda lihat dalam rekaman CCTV ini bukanlah orang-orang yang berusaha mempraktikkan hukum adat. Yang akan Anda lihat adalah tindak kriminal, biasa dan sederhana. Itu keji, menjijikkan, dan tidak akan ditoleransi," tegasnya saat merilis rekaman pada Minggu (2/5/2026).
Konsep "payback" menjadi inti dari kemarahan massa. Dalam sistem kekerabatan Warlpiri, kelompok pribumi tradisional di Tanami Desert, hukuman adat tersebut kadang dibalas bukan hanya kepada pelaku tetapi juga bisa melibatkan seluruh keluarganya.
Seorang warga setempat bahkan mengungkapkan rasa frustrasi: "Perasaan kami adalah, polisi melindungi orang ini. Mereka menembaki kami dengan peluru karet. Sistem ini sepertinya tidak membela kami dan tidak membiarkan kami mendapatkan hukuman adat sendiri," keluh Harley Myers, seorang pria Arrernte, Jumat (30/4/2026).
Menyadari tingkat kemarahan dan potensi penargetan terhadap kerabat Lewis, polisi segera menerbangkan Lewis ke Darwin pada Jumat (30/4/2026) dini hari karena alasan keamanan. Dengan dipindahkannya tersangka, kepolisian khawatir massa yang kecewa akan melampiaskan amarahnya pada aset properti dan bisnis di sekitar Alice Springs.
Kepala Menteri Northern Territory, Lia Finocchiaro, memperingatkan bahwa satu-satunya jalan ke depan adalah menegakkan supremasi hukum dan menghormati proses peradilan yang sudah berjalan.
Ketegangan masih melanda kota ini, tetapi polisi mulai membersihkan kekacauan. Para detektif telah menangkap sedikitnya 11 orang yang teridentifikasi ikut serta dalam penjarahan massal.
Polisi telah merilis rekaman CCTV yang memperlihatkan gerombolan orang menerobos masuk ke sebuah pom bensin dan supermarket, lalu mengosongkan rak dan mencuri berbagai barang. Polisi memberi ultimatum kepada mereka yang terlibat: menyerahkan diri atau polisi akan mendatangi mereka.
Sementara itu, keluarga dan para tetua pribumi memohon ketenangan. "Anak-anak kita sangat berharga, tentu kita merasa marah dan sakit hati atas apa yang terjadi. Pria ini telah ditangkap, berkat aksi komunitas, dan sekarang kita harus membiarkan keadilan berjalan sebagaimana mestinya sambil kita meluangkan waktu untuk berduka," seru Robin Granites, kakek korban sekaligus tetua senior Yapa, Jumat (30/4/2026). (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
.jpg)