Taksi Green SM Mogok di Perlintasan, Kemenhub Ancam Bekukan Izin

Taksi Green SM Mogok di Perlintasan, Kemenhub Ancam Bekukan Izin

BEKASI, LELEMUKU.COM – Insiden taksi listrik Green SM VF e34 yang mogok di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bulak Kapal, Bekasi Timur, menjadi pemicu rangkaian tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB. Kecelakaan yang menewaskan 16 orang dan melukai 90 lainnya itu memicu reaksi keras dari Kementerian Perhubungan yang langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin operasional perusahaan taksi tersebut.

Kronologi berawal ketika taksi hijau tersebut melintas dari arah utara ke selatan dan tiba-tiba mogok tepat di tengah perlintasan kereta api. Saksi mata, Titin, pemilik warung sekitar 50 meter dari lokasi, menuturkan sopir sudah keluar dari kendaraan, namun mobil tidak bisa didorong karena mogok total. Tak lama berselang, KRL Commuter Line rute Cikarang-Jakarta yang melaju menabrak bagian tengah taksi dan terseret sekitar 50 meter.

Insiden di perlintasan itu menyebabkan sistem persinyalan kereta api terganggu. KRL dari arah Jakarta menuju Cikarang yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menurunkan penumpang, kemudian dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Akibat benturan keras, lokomotif kereta jarak jauh itu merangsek hingga ke gerbong khusus wanita KRL.

Jumlah korban jiwa tercatat 16 orang setelah satu korban meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Kota Bekasi pada Rabu (29/4). Secara keseluruhan, tercatat 106 korban yang terdiri atas 16 meninggal dunia dan 90 luka-luka. Dari korban luka, sebanyak 46 orang telah diperbolehkan pulang, sementara lainnya masih menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit.

Menanggapi insiden tersebut, PT Xanh SM Green and Smart Mobility Indonesia (Green SM Indonesia) mengeluarkan pernyataan resmi pada Selasa (28/4/2026). Perusahaan menyampaikan duka mendalam serta belasungkawa kepada keluarga korban dan memastikan dukungan penuh terhadap proses investigasi. “Kami menyampaikan duka mendalam serta belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekat dari para korban. Kami menaruh perhatian atas insiden ini dan berharap seluruh pihak yang terlibat segera pulih serta berada dalam kondisi aman,” tulis manajemen Green SM.

Green SM juga menegaskan komitmennya untuk kooperatif dengan otoritas terkait. “Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung,” demikian bunyi pernyataan resmi perusahaan. Green SM mengklaim keselamatan tetap menjadi prioritas utama dan berjanji akan menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional dan pengawasan berkelanjutan.

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan bergerak cepat. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, memanggil manajemen Green SM untuk melakukan klarifikasi pada Selasa (28/4). Pemerintah membentuk tim khusus untuk mendalami keterlibatan taksi tersebut, termasuk aspek perizinan, kelengkapan administrasi, pemenuhan standar keselamatan, hingga kepatuhan pada ketentuan operasional angkutan umum. Meski taksi dengan nomor polisi B 2864 SBX itu tercatat memiliki kartu pengawasan sah hingga 28 Oktober 2026 untuk wilayah Jabodetabek, Kemenhub tetap melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Direktur Jenderal Aan Suhanan mengancam akan memberikan sanksi jika ditemukan pelanggaran terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 85 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum dan PM 117 Tahun 2018. Sanksi tersebut bisa berupa surat peringatan, pembekuan izin sementara, hingga pencabutan izin operasional. “Kami akan mengaudit kembali elemen-elemen standar manajemen keselamatan yang wajib dipenuhi perusahaan angkutan umum. Kami akan melihat bagaimana standar manajemen keselamatan dijalankan di lapangan,” tegas Dirjen Aan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan langkah ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian. Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pembangunan flyover di wilayah Bekasi untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. Polisi juga akan memeriksa sopir taksi Green SM dan masinis KA Argo Bromo Anggrek, serta bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengusut penyebab pasti kecelakaan. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya