Menuju Hari Sagu Indonesia, Anthonius Ayorbaba Dorong Inovasi Pariwisata Dari "Kelas Menokok" hingga “Mini Museum Sagu”
JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Sagu kini tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas pangan pokok di Tanah Papua, melainkan tengah dipersiapkan menjadi magnet pariwisata baru yang inovatif.
Menyusul kesuksesan Festival Sagu Papua 2026 yang berlangsung pada 24-26 April lalu, Kepala Kanwil Kementerian Hukum Papua, Anthonius Ayorbaba menjelaskan sejumlah rencana strategis untuk mentransformasi potensi sagu menjadi atraksi wisata kelas dunia menyambut “Hari Sagu Indonesia” pada 21 Juni 2026 mendatang.
Salah satu inovasi utama yang diusung adalah pembentukan “Kelas Menokok" di berbagai kampung di Papua. Program ini bertujuan untuk mengubah proses pengolahan sagu tradisional, yang selama ini merupakan kegiatan sehari-hari masyarakat peramu menjadi sebuah amenitas pariwisata yang atraktif.
Wisatawan nantinya tidak hanya sekadar melihat, tetapi dapat terlibat langsung dalam proses menokok sagu secara tradisional, sehingga memberikan pengalaman budaya yang mendalam.
Inovasi pariwisata lainnya yang menjadi target adalah pendirian “The Papuan House of Sagu”. Konsep ini merupakan sebuah mini museum yang dirancang untuk mendokumentasikan segala hal terkait sejarah dan perkembangan sagu di Papua.
Menariknya, konten museum ini akan diperkuat dengan data sejarah yang otentik. Ayorbaba mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mendalami referensi dokumen penting hasil riset akademisi lokal di perpustakaan Leiden, Belanda. Dengan dukungan dokumen-dokumen tersebut, masyarakat dan wisatawan dapat melihat gambaran utuh pengembangan sagu dari zaman Belanda hingga era Indonesia saat ini.
Lanjutnya, untuk memperkuat ekosistem pariwisata budaya, Kemenkumham Papua juga merencanakan serangkaian lomba kreatif, mulai dari penulisan cerita tentang sagu hingga pembuatan film dokumenter.
Tak hanya itu, seni pertunjukan juga akan dikemas secara unik melalui lomba tari Yospan. Berbeda dengan kompetisi pada umumnya, peserta lomba Yospan kali ini diwajibkan membawakan lagu bertema sagu dengan iringan musik secara langsung atau live music, tanpa menggunakan rekaman.
“Langkah ini dapat menghidupkan kembali kreativitas seniman lokal sekaligus menjadi daya tarik hiburan bagi turis,” ujar dia pada Selasa, 28 April 2029.
Ayorbaba menekankan bahwa seluruh inovasi pariwisata ini harus didukung oleh perlindungan hukum yang kuat melalui pendaftaran Kekayaan Intelektual, termasuk sertifikat Indikasi Geografis untuk sagu Papua.
OKemenkumham Papua saat ini juga tengah menyiapkan blueprint atau peta jalan pengembangan potensi sagu yang akan diserahkan kepada Bappenas melalui Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua.
Meskipun mengakui adanya tantangan dari sisi keterbatasan anggaran, Ayorbaba tetap optimis bahwa sinergitas lintas kementerian, perbankan, dan pemerintah daerah akan mampu mewujudkan visi sagu sebagai ikon pariwisata Papua yang berkelanjutan.
"Kita mau buat pengelolaan sagu secara tradisional itu menjadi sebuah aminitas baru yang secara atraktif memberikan ketertarikan untuk wisatawan datang," pesan Ayorbaba. (Laura)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
