Miswar Maturusi, Kapten Kapal Asal Indonesia yang Hilang Setelah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
JAKARTA, LELEMUKU.COM - Kapten kapal asal Sulawesi Selatan, Miswar Maturusi atau yang dikenal Capt Miswar Maturusi, dilaporkan hilang kontak setelah tugboat Musaffah 2 mengalami serangan rudal dan tenggelam di Selat Hormuz pada 6 Maret 2026. Kapal tersebut sedang memberikan bantuan salvage kepada kapal kontainer Safeen Prestige yang lebih dulu diserang.
Capt Miswar Maturusi, warga Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, adalah pelaut senior dengan pengalaman lebih dari 26 tahun.
Ia menjabat sebagai kapten atau master pada kapal tugboat Musaffah 2 (IMO 9522051, MMSI 470887000, Call Sign A6E2396) milik Abu Dhabi Ports, Uni Emirat Arab. Kapal berbendera UAE tersebut dibangun tahun 2012 dengan panjang 26,09 meter, lebar 8 meter, dan gross tonnage sekitar 134 GT.
Insiden terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat, sekitar 18 mil laut timur laut Khasab, Oman. Musaffah 2 sedang menuju lokasi untuk membantu kapal kontainer Malta-flagged Safeen Prestige (IMO 9593517) yang diserang rudal dua hari sebelumnya pada 4 Maret 2026. Kapal tunda ini terkena dua rudal atau proyektil tak dikenal, mengakibatkan ledakan, kebakaran hebat, dan akhirnya tenggelam.
Dari total 7 awak kapal yang berasal dari berbagai kewarganegaraan yaitu Indonesia, India, Filipina, 4 orang dilaporkan selamat termasuk satu WNI berinisial YRJ yang mengalami luka bakar dan sedang dirawat. Sementara 3 orang hilang, semuanya WNI dengan inisial MP, SR, AS, termasuk Capt Miswar Maturusi sebagai kapten. Komunikasi terakhir dengan keluarga hanya menunjukkan centang biru di aplikasi chatting tanpa balasan lanjutan.
Keluarga di Luwu, termasuk kerabat seperti Sumarlin Ahmad, masih menunggu kabar resmi dari pemerintah. Mereka menyatakan belum dihubungi langsung oleh Kementerian Luar Negeri RI.
Ahmad menyatakan Capt Miswar sendiri sedang mempersiapkan masa pensiun dan berencana beralih menjadi dosen atau pengajar bidang maritim.
Investigasi sedang dilakukan oleh otoritas UAE, Oman, dan International Maritime Organization (IMO). Abu Dhabi Ports selaku pemilik kapal belum merilis pernyataan resmi detail.
Pihak internasional seperti UKMTO dan firma keamanan maritim Vanguard Tech telah melaporkan insiden ini sebagai bagian dari eskalasi serangan di Selat Hormuz yang mencapai 10-13 kasus sejak akhir Februari 2026.
Analisa dari sumber maritim kredibel seperti IMO, Lloyd’s List, dan Institute for the Study of War menunjukkan pola serangan ini konsisten dengan aksi Iran atau IRGC sebagai respons terhadap konflik regional yang lebih luas.
Pemerintah Indonesia melalui Kemlu RI dan KBRI Abu Dhabi/Muscat terus berkoordinasi dengan pihak UAE dan Oman untuk pencarian korban hilang. (evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri