Dampak Perang Iran terhadap Indonesia, Harga BBM Melonjak dan Beban APBN Bertambah
JAKARTA, LELEMUKU.COM - Eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 telah memicu dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama sektor bahan bakar minyak (BBM).
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung, gangguan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang langsung berdampak pada kenaikan harga BBM domestik dan pembengkakan subsidi energi.
Menurut analisis Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), perdagangan Indonesia dengan Iran dan Israel relatif kecil, tetapi dampak tidak langsungnya terasa melalui tekanan pada nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM, serta potensi inflasi.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak di atas 100 dolar AS per barel sejak konflik pecah, yang memaksa Pertamina sebagai importir utama minyak Indonesia menyesuaikan harga jual BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertalite.
Kenaikan ini berpotensi membengkakkan subsidi energi dan BBM hingga triliunan rupiah, menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kondisi fiskal Indonesia.
Ekonom dari Universitas Ciputra menyatakan bahwa konflik ini mengancam krisis ekonomi global, dengan lonjakan harga minyak memicu inflasi dan memerlukan strategi antisipasi dari pemerintah Indonesia, seperti diversifikasi sumber impor energi.
Di sisi lain, Komisi I DPR RI memperingatkan efek domino ke harga BBM domestik karena ketergantungan Indonesia pada impor minyak dari Timur Tengah.
Jika jalur perdagangan terganggu berkepanjangan, harga BBM subsidi bisa naik, membebani masyarakat berpenghasilan rendah dan memicu inflasi pangan serta transportasi.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM berfokus pada urgensi ketahanan energi nasional, dengan mendorong peningkatan produksi domestik dan diversifikasi pasokan dari negara lain seperti Rusia atau Afrika.
Selain BBM, konflik ini juga mengancam pelemahan rupiah akibat lonjakan harga emas dan minyak global, yang bisa mencapai babak baru pada Maret 2026.
Meski demikian, ada peluang bagi ekspor komoditas Indonesia seperti nikel dan batubara jika harga energi dunia naik.
Pemerintah sendiri sudah mengantisipasi hal ini dengan menstabilkan pasokan BBM melalui cadangan strategis dan negosiasi kontrak impor jangka panjang. (evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri