Kabupaten Lebong: Warisan Budaya Rejang dan Surga Ekowisata di Lembah Bukit Barisan
TUBEI, LELEMUKU.COM - Kabupaten Lebong adalah sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu yang terletak di lembah Luak Lebong, dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan, dan dikenal sebagai pusat kebudayaan suku Rejang serta destinasi ekowisata yang kaya akan keanekaragaman alam.
Sejak lama wilayah ini menjadi saksi pergerakan suku Rejang yang terbagi menjadi empat petulai utama, yaitu Joorcalang, Beremanni, Selopo, dan Toobye. Pada masa kolonial Belanda, catatan Residen Inggris John Marsden (1775-1779) menuliskan keberadaan keempat petulai tersebut, menegaskan bahwa Lebong merupakan titik asal mula identitas Rejang. Pada 18 Desember 2003, berdasarkan UU No. 39 Tahun 2003, Lebong resmi dipisahkan dari Kabupaten Rejang Lebang menjadi entitas administratif tersendiri dengan ibukota di Tubei.
Pada masa Ajai, masyarakat Rejang beralih dari pola nomaden ke kehidupan menetap di lembah sungai Ketahun. Sistem komunal yang disebut "kutai" mengatur hak kepemilikan tanah secara kolektif, sementara para Bikau-sembilan tokoh spiritual yang konon berhubungan dengan Kerajaan Majapahit-menyebarkan nilai‑nilai kebudayaan dan keagamaan. Seiring berjalannya waktu, tradisi adat seperti larangan menari antara bujang dan gadis pada upacara Kejai tetap dipertahankan hingga kini, mencerminkan kontinuitas nilai sosial yang kuat.
Geografi Lebong menampilkan panorama perbukitan dengan ketinggian 500‑1.000 meter di atas permukaan laut. Sungai Ketahun mengalir dari daerah Topos, melintasi lembah sebelum bermuara di Bengkulu Utara, menjadikan wilayah ini sumber air bersih dan jalur transportasi tradisional. Lebih dari 134.000 hektar wilayahnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi, termasuk bagian Taman Nasional Kerinci Seblat, hutan lindung Rimbo Pengadang, dan cagar alam Boven Lais, yang sejak 1927 telah dilindungi sebagai hutan batas oleh pemerintah kolonial.
Kebudayaan Rejang menonjol lewat rumah adat beratap tinggi, anyaman rotan, serta musik tradisional yang menggunakan alat seperti gendang dan serunai. Upacara adat "Ajai" dan "Bikau" memperlihatkan sistem kepemimpinan berbasis konsensus, sementara festival tahunan menampilkan tarian tradisional yang mengekspresikan legenda asal‑usul petulai. Nilai kebersamaan dan kepemilikan komunal masih terasa dalam praktik pertanian subsisten, kerajinan anyaman, serta sistem pertukaran hasil hutan yang mengakar sejak masa pra‑sejarah.
Potensi pariwisata Lebong meliputi trekking di hutan lindung, observasi satwa liar di Kerinci Seblat, serta penelusuran jejak penambangan emas era Belanda yang masih tersisa dalam bentuk bangunan berarsitektur kolonial. Wisatawan dapat menyusuri sungai Ketahun dengan perahu tradisional, menikmati panorama sunrise di puncak Bukit Barisan, atau berpartisipasi dalam workshop anyaman bersama pengrajin lokal. Keunikan budaya Rejang memberikan nilai tambah, karena pengunjung dapat menyaksikan upacara adat yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Dari perspektif timur Indonesia, Lebong berbagi pola migrasi dan pertukaran budaya yang serupa dengan wilayah Maluku dan Papua, di mana komunitas adat mengandalkan sumber daya alam dan sistem komunal. Jejak pengaruh Majapahit yang dibawa oleh Bikau mencerminkan jaringan historis yang menghubungkan Sumatera selatan dengan kepulauan timur, memperkuat rasa persaudaraan budaya antar wilayah. Hubungan perdagangan tradisional antara pedagang Rejang dan suku‑suku di Maluku juga menambah dimensi lintas‑regional yang memperkaya identitas Lebong.
Hingga kini, pemerintah kabupaten berupaya mengembangkan ekowisata berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Program pelatihan pemandu lokal, promosi homestay berbasis rumah adat, serta festival budaya tahunan menjadi sarana memperkenalkan Lebong kepada wisatawan domestik dan mancanegara tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian warisan, Lebong berpotensi menjadi contoh model pariwisata yang menghormati akar budaya sekaligus membuka peluang bagi generasi muda.
Secara keseluruhan, Kabupaten Lebong tetap menjadi wilayah yang memadukan keindahan alam, kedalaman sejarah, dan kekayaan budaya Rejang. Dari masa lalu hingga kini, nilai‑nilai kebersamaan, kepemilikan komunal, dan penghormatan terhadap alam terus menjadi landasan kehidupan masyarakat. Bagi para pelancong yang mencari pengalaman otentik di luar jalur mainstream, Lebong menawarkan perjalanan yang menghubungkan jiwa timur Indonesia dengan akar‑akar budaya yang telah terjaga selama berabad‑abad. (Evu)