Kabupaten Bengkulu Selatan: Warisan Budaya dan Potensi Pariwisata
MANNA, LELEMUKU.COM - Kabupaten Bengkulu Selatan merupakan wilayah administratif yang terletak di provinsi Bengkulu, Sumatera, dengan ibu kota berada di kecamatan Kota Manna. Sebagai salah satu daerah yang memiliki warisan budaya Melayu Tengah, kabupaten ini menjadi titik penting dalam jaringan kebudayaan dan pariwisata di bagian barat Pulau Sumatera, sekaligus menjadi jembatan historis yang menghubungkan tradisi barat dengan pengaruh timur, khususnya melalui hubungan dagang lama dengan Maluku.
Sejak lama, wilayah yang kini dikenal sebagai Bengkulu Selatan telah menjadi saksi pergerakan politik dan administratif. Pada 8 Maret 1949, keputusan Gubernur Militer Daerah Militer Istimewa Sumatera Selatan menetapkan Baksir sebagai bupati pertama, menandai transformasi dari nama sebelumnya, Kabupaten Manna Kaur (1945-1948) dan Kabupaten Seluma Manna Kaur (1948-1949).
Perkembangan selanjutnya diperkuat oleh Surat Keputusan Presiden RI tanggal 14 November 1956, yang mengukuhkan status kabupaten melalui Undang‑Undang Nomor 4 Tahun 1956. Kesepakatan masyarakat pada 7 Juni 2005, yang dituangkan dalam Perda No. 20, menjadikan 8 Maret sebagai hari jadi resmi, menegaskan identitas lokal yang terus dipertahankan hingga kini.
Keunikan budaya Kabupaten Bengkulu Selatan terletak pada bahasa Melayu Tengah yang terbagi menjadi dua dialek utama: Besemah, bahasa ibu suku Basemah, dan Serawai, bahasa ibu suku Serawai. Kedua dialek ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, melainkan juga menyimpan nilai‑nilai adat, cerita rakyat, serta bentuk seni tradisional yang diwariskan secara lisan sejak masa lalu.
Berbagai upacara adat, seperti tarian Gendang Besemah dan ritual Serawai, menampilkan kostum berwarna cerah, musik perkusi, serta gerakan yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam. Seni anyaman rotan dan anyaman bambu, yang diproduksi di desa‑desa sekitar Manna, telah menjadi produk khas yang dipasarkan hingga ke pasar‑pasar di Maluku dan Papua, memperkuat jaringan ekonomi timur‑barat.
Dalam ranah alam, kabupaten ini mencakup 1.186,10 km² wilayah yang meliputi pegunungan, sungai, dan pantai berpasir. Air terjun Curup dan Danau Toba Kaur menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan yang mencari keindahan alam yang masih alami. Hutan tropis yang melimpah menyediakan habitat bagi satwa endemik, sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi komunitas lokal yang mengandalkan pertanian dan perikanan tradisional.
Pariwisata di Bengkulu Selatan berkembang secara berkelanjutan sejak lama, dengan fokus pada ekowisata dan budaya. Pemerintah kabupaten telah membangun fasilitas dasar, seperti jalur akses ke situs‑situs bersejarah dan pusat informasi budaya, sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan alam sekaligus memahami nilai‑nilai sosial yang mendasari kehidupan masyarakat setempat.
Keterkaitan dengan daerah timur terlihat jelas dalam pola migrasi dan perdagangan. Sejak abad ke‑17, pelaut dari Maluku dan Papua berlayar ke pelabuhan Manna untuk menukar rempah, kain tenun, dan hasil pertanian. Hubungan ini tidak hanya memperkaya kuliner lokal, seperti masakan ikan bakar dengan bumbu rempah khas timur, tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan yang tetap terjaga hingga kini.
Hingga kini, upaya pelestarian budaya dan lingkungan menjadi agenda utama. Program pelatihan bahasa dan kerajinan tradisional dilaksanakan bersama lembaga kebudayaan di Papua, sementara proyek konservasi hutan melibatkan komunitas adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Statistik penduduk yang terus meningkat, mencapai 177.753 jiwa pada pertengahan 2025, menunjukkan dinamika demografis yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan dan pelestarian.
Dengan landasan sejarah yang kuat dan kekayaan budaya yang melimpah, Kabupaten Bengkulu Selatan tetap menjadi contoh wilayah yang mampu menjembatani warisan timur dan barat. Perspektif masa kini menekankan pentingnya kolaborasi lintas daerah, sehingga potensi pariwisata dan kebudayaan dapat terus bersinar, memberi manfaat bagi generasi mendatang. (Evu)