Kabut Asap Selimuti Jayapura, Jarak Pandang Menurun dan Penerbangan Tertunda

📅 14 Oktober 2026
✍️ Oleh: Redaksi Lelemuku.com  ·  📰 Lelemuku.com
Kabut Asap Selimuti Jayapura, Jarak Pandang Menurun dan Penerbangan Tertunda
JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Jayapura, Papua, pada Rabu (14/10/2026), menyebabkan jarak pandang menurun dan mengganggu aktivitas penerbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kekaburan udara ini merupakan kabut asap tipis yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Papua serta kiriman dari Papua Nugini.

Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG, Finnyalia Napitupulu, menjelaskan bahwa fenomena udara kabur di Kota dan Kabupaten Jayapura telah terpantau sejak 8 Oktober 2026. “Fenomena udara kabur di Kota dan Kabupaten Jayapura sejak 8 Oktober 2026 merupakan kabut asap tipis. Asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Papua dan Papua Nugini,” ujar Finnyalia. Hasil pemodelan menunjukkan partikulat dari wilayah utara Papua Nugini terbawa angin menuju Jayapura, sementara asap dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat, juga berpotensi memberikan kontribusi signifikan.

Dampak paling terasa adalah terganggunya jarak pandang di Bandara Internasional Sentani. Selama tiga hari terakhir, kabut asap mempengaruhi jarak pandang hingga mencapai lima kilometer. Akibatnya, tujuh penerbangan mengalami keterlambatan, dengan tujuan terbanyak ke Wamena dan Timika. Sejumlah pesawat kargo juga mengalami pembatalan keberangkatan ke Wamena.

“Kejadian ini terjadi sejak 10 Oktober 2026 sampai sekarang kita masih berkoordinasi dengan BMKG terhadap kondisi cuaca hari ini. Jarak pandang berbahaya kalau dipaksakan sehingga kita ambil keputusan demi keselamatan penumpang,” ujar Branch Communication & CSR Department Head Bandara Internasional Sentani, Syahrial Sembiring.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) periode 10–12 Oktober 2026, kualitas udara di Kota dan Kabupaten Jayapura berada pada kategori sedang dengan nilai pencemaran partikel halus PM2.5 berkisar 66 hingga 73. Meski masih dalam kategori sedang, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan asap, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

“Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas. Jika mengalami sesak napas, terutama bagi yang memiliki gangguan pernapasan, segera mendatangi fasilitas kesehatan,” ujar Finnyalia. BMKG juga menyarankan warga menghindari pembakaran sampah atau lahan secara terbuka serta menutup pintu dan jendela ketika kabut asap menebal.

Sementara itu, kontribusi asap dari kebakaran hutan dan lahan di Merauke terhadap kekaburan udara di Jayapura dinilai relatif kecil. Analisis citra satelit Himawari-9 tidak mengidentifikasi secara jelas pergerakan asap dari wilayah tersebut menuju Jayapura. Namun, dampak asap di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, terpantau lebih signifikan dan terdeteksi berasal dari aktivitas karhutla di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Pengamatan udara atas menggunakan instrumen radiosonde pada 10 Oktober 2026 mendeteksi dua lapisan stabil pada ketinggian sekitar 6,6 kilometer dan 6,0 kilometer. Lapisan inversi tersebut menghambat pergerakan udara ke atas sehingga partikel kering, asap, dan polutan terperangkap di dekat permukaan. (Evu)