Inflasi Provinsi Papua dan Tiga DOB pada Mei 2026 Tetap Terjaga, Tertinggi di Papua Tengah
JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Mei 2026 mencatat bahwa secara bulanan dua provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua mengalami inflasi, yaitu Provinsi Papua Tengah dan Provinsi Papua Pegunungan. Sementara dua provinsi lainnya mengalami deflasi, yaitu Provinsi Papua dan Provinsi Papua Selatan.
Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Papua Tengah sebesar 0,52 persen secara bulanan (mtm), diikuti oleh Provinsi Papua Pegunungan sebesar 0,48 persen (mtm). Adapun deflasi terdalam tercatat di Provinsi Papua sebesar minus 0,68 persen (mtm), disusul Provinsi Papua Selatan sebesar minus 0,50 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Pegunungan sebesar 4,44 persen (yoy), disusul Provinsi Papua sebesar 2,79 persen (yoy), Provinsi Papua Selatan sebesar 2,17 persen (yoy), dan Provinsi Papua Tengah sebesar 2,05 persen (yoy).
Bank Indonesia menyebutkan bahwa inflasi bulanan ini masih terjaga dalam sasaran target nasional. Kondisi ini didukung oleh pasokan pangan lokal yang memadai, terutama cabai rawit dan aneka sayur seperti kangkung, bayam, dan sawi hijau, seiring dengan cuaca yang lebih kondusif.
Di sisi lain, andil inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok transportasi akibat penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi, khususnya avtur yang berdampak langsung pada lonjakan tarif angkutan udara di Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) lainnya.
Berikut rincian inflasi di masing-masing provinsi
Provinsi Papua, secara bulanan mengalami deflasi minus 0,68 persen (mtm), tahun berjalan 0,70 persen (ytd), dan tahunan 2,79 persen (yoy). Deflasi tertahan oleh penurunan harga pada komoditas ikan tuna, ikan cakalang, dan cabai rawit. Sementara inflasi didorong oleh peningkatan harga pada komoditas tomat, telepon seluler, dan buncis.
Provinsi Papua Selatan, mengalami deflasi minus 0,50 persen (mtm), tahun berjalan 2,47 persen (ytd), dan tahunan 2,17 persen (yoy). Deflasi didorong oleh penurunan harga cabai rawit, kangkung, dan sawi hijau. Inflasi dipicu oleh kenaikan harga ikan layang, tomat, dan daging ayam ras.
Provinsi Papua Tengah, mengalami inflasi 0,52 persen (mtm), tahun berjalan 0,68 persen (ytd), dan tahunan 2,05 persen (yoy). Inflasi didorong oleh kenaikan harga angkutan udara, beras, dan tahu mentah. Sementara deflasi dipicu oleh penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan tomat.
Provinsi Papua Pegunungan, mengalami inflasi 0,48 persen (mtm), tahun berjalan 4,32 persen (ytd), dan tahunan 4,44 persen (yoy). Inflasi didorong oleh kenaikan harga tomat, daging ayam ras, dan angkutan udara. Deflasi dipicu oleh penurunan harga cabai rawit, telur ayam ras, dan talas.
Upaya pengendalian inflasi selama bulan Mei 2026 telah dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi bersama mitra kerja strategis di seluruh Provinsi Papua dan DOB. Dalam hal keterjangkauan harga, telah terlaksana Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala bersinergi dengan pemerintah daerah, Bulog, serta mitra kerja terkait.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, diberikan dukungan sarana dan prasarana produksi pertanian kepada kelompok tani di Papua Tengah dan Papua Selatan. Sementara untuk kelancaran distribusi, diberikan dukungan sarana dan prasarana distribusi kepada kelompok tani di Provinsi Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Selain itu, telah dilaksanakan berbagai bentuk edukasi terkait upaya pengendalian inflasi baik melalui kanal media sosial, kegiatan capacity building TPID wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua, serta kunjungan ke klaster pertanian championship sebagai upaya menambah wawasan dan mengidentifikasi hal-hal yang dapat direplikasi oleh petani di daerah masing-masing. (BI Papua)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
