Fenomena Bola Api Meteor Terangi Langit Subuh Jayapura pada 26 Januari 2026

Fenomena Bola Api Meteor Terangi Langit Subuh Jayapura pada 26 Januari 2026

JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Warga Kota Jayapura dan sekitarnya dikejutkan oleh penampakan cahaya terang yang melintas di langit subuh pada Selasa 26 Januari 2026. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 03.00 hingga 05.00 WIT dan menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat, mulai dari meteor jatuh hingga kemungkinan puing roket atau pesawat.

Berdasarkan analisis awal dari saksi mata dan dokumentasi lokal, fenomena tersebut kemungkinan besar merupakan fireball atau bola api meteor sporadis yang membakar di atmosfer Bumi. 

Laporan di media sosial menampilkan seorang warga dari Kampung Yobeh, Sentani yang berhasil merekam momen tersebut melalui foto dan video pendek. Dalam rekaman terlihat streak cahaya putih-kuning-oranye dengan ekor samar yang melintas secara horizontal atau miring di langit gelap subuh. 

Salah satu postingan menyebutkan, "kejadian tadi subuh, terlihat dari kampung yobeh. entah pesawat atau meteor".

Warga lain di Jayapura melaporkan cahaya mendadak terang yang berlangsung hanya beberapa detik, tanpa disertai suara gemuruh atau ledakan signifikan. 

Spekulasi awal termasuk kemungkinan pesawat jatuh atau re-entry satelit, tetapi tidak ada laporan kecelakaan penerbangan atau re-entry yang cocok dengan waktu dan lokasi tersebut. 

Fenomena ini terlihat jelas karena langit subuh relatif cerah di wilayah Papua timur, dengan arah lintasan kemungkinan dari timur menuju laut Pasifik barat.

Menurut data dari American Meteor Society (AMS) dan International Meteor Organization (IMO), Januari 2026 merupakan periode dengan aktivitas meteor sporadis yang normal. Khususnya, hujan meteor Alpha Centaurids mulai aktif dari 26 Januari hingga 5 Februari, dengan puncak pada 27 Januari. 

Titik asal (radiant) Alpha Centaurids berada di konstelasi Centaurus, yang terlihat dari belahan Bumi selatan termasuk wilayah Indonesia timur seperti Papua. Meskipun bukan bagian dari hujan meteor utama seperti Quadrantids, fireball tunggal seperti ini sering terjadi secara acak dan bisa mencapai kecerahan setara bulan purnama.

Fireball terjadi ketika meteoroid atau batuan kecil dari luar angkasa, memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi puluhan kilometer per detik. Gesekan dengan udara menyebabkan pemanasan ekstrem, menghasilkan cahaya terang dan jejak api. Kebanyakan fireball habis terbakar di ketinggian 50-100 km, tanpa mencapai permukaan Bumi sehingga bukan meteorit yang jatuh. 

NASA Center for Near Earth Object Studies (CNEOS) tidak mencatat event signifikan dengan energi tinggi atau impact di wilayah Pasifik barat pada tanggal tersebut, yang menegaskan bahwa kejadian ini tidak menimbulkan risiko apa pun.

Fenomena serupa telah terjadi di berbagai belahan dunia pada Januari 2026, seperti fireball di atas Lake Erie di Amerika Serikat dan selama hujan meteor Quadrantids yang direkam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional. 

Di Indonesia, laporan fireball sporadis sering muncul di media sosial, terutama di wilayah timur yang memiliki langit lebih gelap dan minim polusi cahaya.

Tidak ada laporan kerusakan, tsunami, gempa, atau dampak fisik akibat kejadian ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum mengeluarkan pernyataan resmi hingga sore ini, tetapi fenomena langit seperti ini biasanya dikategorikan sebagai peristiwa alam biasa. (ray)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya