-->

Inflasi di Inggris Meningkat, Harga Telur Paskah Makin Mahal


LONDON, LELEMUKU.COM - Hari-hari menjelang Paskah biasanya merupakan masa sibuk bagi para pembuat cokelat.

Di Inggris dan juga di berbagai tempat lain di dunia, sudah menjadi tradisi umat Kristiani untuk merayakan hari keagamaan ini dengan menyediakan cokelat berbentuk telur.

Selama bertahun-tahun, masyarakat juga merayakan Paskah dengan menyertakan lambang tradisional lainnya, yakni cokelat berbentuk kelinci.

Pada perayaan tahun ini, banyak konsumen di Inggris yang mengeluhkan harga telur Paskah yang mahal. Konsorsium Ritel Inggris (BRC) membenarkan tentang kenaikan harga bahan makanan pada umumnya.

Menurut BRC, harga-harga bahan makanan naik setengah persen pada Maret menjadi 15 persen. Gula, salah satu komponen utama pembuatan cokelat, termasuk yang mengalami kenaikan harga cukup signifian.

Menurut Kantor Statistik Nasional Inggris, harga rata-rata gula pasir per kilogram naik dari 75 penny (sekitar Rp13.900) pada tahun 2019 menjadi 1,06 poundsterling (hampir Rp19.700) pada Februari tahun ini.

Harga itu, ditambah lagi dengan kenaikan biaya hidup secara umum, mengacaukan belanja Paskah tahun ini, kata para konsumen lokal.

Seorang di antaranya, Kerry Moir, mengatakan,“Saya pasti akan mengurangi belanja tahun ini, dan akan mencoba membagikan hadiah berupa misalnya kupon belanja, bukannya telur-telur Paskah yang besar seperti pada masa lalu. Ini benar-benar mengkhawatirkan karena secara perlahan harga-harga terus naik. Sepertinya sudah menjadi norma kalau harga-harga naik dan terus naik.”

Sementara itu Tina Fenner, seorang pemilik toko cokelat eceran, mengatakan, para pengusaha telah berusaha untuk mempertahankan harga. Akan tetapi mereka tidak punya pilihan dan pada akhirnya harus menaikkan harga.

“Kami akan terpaksa menaikkannya segera, kemungkinan persis setelah Paskah. Saya pikir kita tentu tidak ingin menambah spiral inflasi tetapi kami juga harus bertahan,” jelasnya.

Konsorsium Ritel Inggris sendiri menegaskan bahwa para anggotanya telah benar-benar berusaha melindungi konsumen. Ini diungkapkan salah seorang direktur konsorsium tersebut, Kris Hamer.

“Jadi peritel sesungguhnya benar-benar melindungi konsumen dari dampak terburuk inflasi yang mereka terima dari para pemasok mereka. Kami melihat ada kenaikan biaya gula 13 persen dan ini jelas berdampak pada harga yang dilihat konsumen di toko,” jelasnya. (VOA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel



Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com selain "" di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Iklan Bawah Artikel