-->
Tabloid Lelemuku

Perjalanan Politik Amien Rais dari Masa Reformasi hingga Mendirikan Partai Ummat

Perjalanan Politik Amien Rais dari Masa Reformasi hingga Mendirikan Partai Ummat.lelemuku.com.jpg

JAKARTA SELATAN, LELEMUKU.COM - Muhammad Amien Rais, politikus Indonesia yang pernah menjabat Ketua MPR pada periode 1999 - 2004. Ia turut membidani lahirnya reformasi dan berakhirnya era pemerintahan orde baru juga beberapa tokoh lainnya dan gerakan mahasiswa 1998.

Amien Rais lahir di Solo, pada 26 April 1944. Nama kecilnya Mohammad Amien. Ia lahir dari keluarga yang religius dan kemuhammadiyahan yang sangat kental. Ayahnya bernama Syuhud Rais, berlatar belakang pendidikan dari Madrasah Mualimin Muhammadiyah, sebuah sekolah kader Muhammadiyah yang paling tua sekaligus terkemuka di Yogyakarta. Ibunya Sudalmiyah juga seorang aktivis perempuan Islam dengan latar belakang kemuhammadiyahan yang sangat kuat.

Dikutip dari penelitian oleh Nurhasilah, mahasiswa UIN Banten, disebutkan sedari kecil Amien telah dibekali ilmu agama dan Muhammadiyah dari keluarganya dan semakin didalami dengan riwayat pendidikannya di lembaga pendidikan Muhammadiyah di Solo sedari TK hingga SMA. Sedari kecil pula Amien mengenal Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah.  

Amien memang dikenal sebagai anak pemberani. Tampak dari watak juga hasil didikan kedua orang tuanya. Ibunya sedari kecil mengajarkannya menjadi orang tegas dan berani menyampaikan kebenaran.

Sejak bangku sekolah, kepemimpinan Amien telah terasah dengan sederhana dengan menjadi pemimpin di perkemahan yang melatihnya bagaimana menjadi pemimpin.

Beranjak dewasa Amien terpilih menjadi pemimpin di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menjadi ketua III DPP IMM, dan sekaligus wakil ketua LDMI HMI.

Sebagai aktivis dan cendekiawan muslim, Amien bersama 49 orang lainnya turut menandatangani berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Malang, Desember 1990. Hal itu membawanyanya menjabat sebagai asisten I ketua umum ICMI hingga 1995.

Amien banyak mengkritik pemerintah dengan cukup tajam. Kian tajam saat Indonesia terpuruk krisis moneter dan ekonomi pada Juli 1997. Amien seringkali mengeluarkan pernyataan yang membuat orang di sekitarnya terperangah, salah satunya saat ia mengatakan “Insya Allah, saya bersedia menjadi presiden.”

Pernyataannya tersebut menimbulkan pro kontra di masyarakat, cendikiawan dan elit politik bangsa Indonesia. Karena pernyataannya itu, aktivis kampus UGM membentang spanduk sepanjang seratus meter untuk ditandatangani sebagai bentuk dukungan Amien menjadi presiden. Setelah itu, Soeharto yang menjabat bangku presiden kala itu turun setelah 32 tahun berkuasa.

Kemudian Amien pada 31 Mei 1993 dianugrahi Reformasi Award di kampus IPB. Kemudian juga dinobatkan sebagai "Tokoh 1997" oleh majalah UMMAT dan mendapat penghargaan UII award dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta atas komitmennya memperjuangkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar’.

Pada 1998, Amien mendorong gerakan reformasi dengan mengangkat isu suksesi kepemimpinan nasional dan bergerak dengan mahasiswa dan masyarakat. Amien juga menyuarakan pekik reformasi dengan mahasiswa atas tak mampunya Soeharto mengatasi krisis yang multi-sektoral.

Saat itu, untuk perannya banyak pihak yang memberikan prediket "Bapak Reformasi" kepada Amien, termasuk 20 perwakilan perguruan tinggi di Indonesia memberikannya penghargaan Reformasi.

Dilansir dari buku Suara Amien Rais Suara Rakyat oleh Muhammad Najib, perjalanan orde baru 30 tahun lamanya telah memperlihatkan banyak pembangunan, namun menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks, yaitu korupsi, kolusi nepotisme, keserakahan dan degradasi moral yang hampir menyeluruh di segenap sektor kehidupan.

Amien larut dalam kepeduliannya dan mendramatisir nilai-nilai keadilan atau kebenaran yang diyakininya. Amien terus gencar membicarakan tentang kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Dilansir dari Antara, pada Oktober 2020 Amien mengumumkan pendirian partai baru dengan nama Partai Ummat. Dalam saluran YouTube resminya Amien menyebutkan partainya ini bertekad memegang teguh Pancasila, UUD 1945, dan semua aturan demokrasi universal.

Menurutnya hanya negara yang dapat menegakkan keadilan bagi semua rakyatnya sehingga semua tergantung pada pemerintah yang sedang berkuasa. "Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa hanya negara yang mampu melakukan kezaliman kolosal. Akan tetapi, sebaliknya pula hanya negara yang dapat menegakkan keadilan secara merata," katanya.

Menurut Amien Rais, segolongan umat manusia harus berusaha untuk menegakkan keadilan sekaligus melawan kezaliman secara sisitematik lewat perjuangan politik. Disebutkan Partai Ummat akan bertekad bekerja dan berjuang bersama anak bangsa untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. (Annisa Firdausi| Tempo)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel

powered by