-->

Rusia, Turki dan Iran Bahas Masa Depan Suriah Pasca Perang

Rusia, Turki dan Iran Bahas Masa Depan Suriah Pasca PerangMOSCOW, LELEMUKU.COM - Para pemimpin Rusia, Iran, dan Turki bertemu Kamis (14/2) di resor peristirahatan Sochi di Laut Hitam Rusia untuk membicarakan langkah maju di Suriah sementara konflik yang berlarut-larut di sana akan berakhir.

Ketiga negara itu berseteru dengan Amerika Serikat dan telah menyambut baik pengumuman Presiden AS Donald Trump bahwa dia berencana untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah. Tetapi seperti yang dikatakan reporter VOA Ricardo Marquina di Moskow dalam laporan yang disampaikan Adriana Sembiring ini, ada beberapa pertanyaan besar tentang apa yang akan terjadi setelah AS menarik diri.

Menurut juru bicara Kremlin Maria Zakharova, Rusia telah memberitahu Turki bahwa mereka kurang berwenang menciptakan “zona yang aman” di dalam wilayah Suriah tanpa persetujuan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

“Pertanyaan tentang keberadaan kontingen militer yang bertindak atas wewenang pihak ketiga di sebuah wilayah negara yang berdaulat, dan khususnya di Suriah, harus diputuskan langsung oleh Damaskus,” ujar Zakharova dalam konferensi pers. “Ini posisi utama kami.”

Delapan tahun setelah dimulainya perang, Suriah tetap tidak stabil. Selama ini, kuatnya kehadiran militer Rusia dan milisi Hizbullah yang didukung Iran telah membantu Bashar al-Assad dan pemerintahannya mempertahankan kekuasaan. Sekarang, kata analis, rencana Presiden Trump AS untuk menarik pasukan dari Suriah telah membuka skenario baru.

Analis Vladimir Evseev mengatakan,“Ini adalah isu yang sangat penting: bagaimana cara mengatasi masalah Kurdi Suriah. Rusia dan juga Iran lebih suka mengintegrasikan Kurdi Suriah ke dalam satu negara kesatuan. Turki ingin memberikan tekanan, dengan paksa, kepada mereka."

Rusia, Turki, dan Iran ingin mencari titik temu. Menjelang KTT mereka, prospek penarikan pasukan AS disambut baik.

"Kami juga membahas bagaimana niat pemimpin Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dari timur laut negara itu akan berdampak pada situasi di Republik Arab Suriah. Jika langkah-langkah dan rencana semacam itu menjadi kenyataan, itu akan menjadi langkah positif," ujar Presiden Putin.

President Turki, Erdogan mengatakan, "Yang sangat penting adalah mencegah kekosongan kekuasaan setelah penarikan pasukan Amerika."

Kota resor Sochi yang hangat menjadi tempat pertemuan puncak tiga pihak tersebut. Meskipun tidak ikut serta dalam pertemuan tersebut, apa yang dilakukan Amerika Serikat selanjutnya sangat mempengaruhi percakapan.

Evseev menambahkan,“Berbicara secara objektif, Amerika Serikat tidak dapat mengusir Rusia dari Suriah. Itu tidak mungkin. Rusia juga tidak akan menendang AS dari Suriah. Jadi mereka sepertinya mencapai kesepakatan."

Menemukan solusi untuk masalah Kurdi di Suriah, ancaman serangan Israel terhadap milisi yang didukung Iran di sana, dan perang melawan ancaman teroris ISIS yang memudar tetapi selalu ada adalah beberapa tantangan besar yang masih akan ada di Suriah lama setelah ini putaran pembicaraan ini terakhir. (VOA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel



Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com selain "" di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Iklan Bawah Artikel