Gempa 5,6 SR di Maluku Utara Tidak Berpotensi Tsunami

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat dua gempa bumi signifikan di zona lempeng Laut Maluku. Apa pemicunya? Dan kenapa tak berpotensi tsunami?

Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa peristiwa pada 5 April kemarin itu terjadi di Melonguane dengan kekuatan 5,6 SR yang terjadi pada pukul 15.29.21 WIB. Gempa bumi ini dirasakan di Melonguane dalam skala intensitas V MMI dan Sangihe III MMI.

Gempa kedua terjadi di Tidore dengan kekuatan 5,1 SR terjadi pada pukul 15.52.35 WIB. Gempabumi ini dirasakan di Ternate II MMI dan di Labuha III MMI.

“Patut disyukuri bahwa kedua gempa bumi ini tidak menimbulkan kerusakan bangunan, namun demikian akibat gempa bumi ini dilaporkan sempat membuat warga berhamburan keluar rumah,” kata Daryono kepada detikcom, Rabu (6/4/2016).

Menurut Daryono, gempa bumi Melonguane dengan episenter di laut dengan mekanisme sumber berupa sesar naik ini tidak berpotensi tsunami. Hal ini disebabkan karena kedalaman hiposenternya yang mencapai 35 kilometer dengan magnitudo gempa yang relatif “kecil”, sehingga tidak mampu merobek dasar laut untuk memicu tsunami.

Gempa bumi berkedalaman dangkal ini terjadi akibat adanya deformasi batuan kerak Bumi karena di zona yang memang selalu mendapat gaya tekanan/kompresi Lempeng Eurasia dari barat dan Lempeng Laut Filipina dari timur. Gaya kompresi yang tersebar di Lempang Laut Maluku ini menjadikan kawasan Laut Maluku memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. (detik)

Untuk berita selengkapnya, silahkan membaca website kami

Berita Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan