Satu Hari, Dua Medan : Kawal Demo HAM hingga Menembus Longsor Pobiatma
| Warga Pobiatma bersama personel gabungan Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi 4 tampak bahu-membahu menembus jalur darat yang rusak akibat longsor, memikul logistik bantuan melewati tanah berlumpur - ISTIMEWA |
Namun, bagi sang Kapolres, tugas belum usai. Di saat pengamanan di kota terbesar di Pegunungan Papua itu mulai melandai, sebuah panggilan kemanusiaan datang dari Distrik Asotipo. Di sana, di bawah bayang-bayang Gunung Wupiahek, Kampung Pobiatma sedang "sekarat" ditimbun lumpur.
| Seorang personel Brimob Kompi 4 memikul pipa dan material darurat melintasi jalur berlumpur menuju Pobiatma - ISTIMEWA |
Tiga hari sebelumnya, Minggu (7/12) pukul 03.00 WIT dini hari, alam menunjukkan sisi gelapnya. Hujan yang tak kunjung reda memicu longsor hebat menutup jalan menuju Sungai Palrim yang lebih dikenal dengan nama Sungai Baliem.
Belasan rumah warga dan kandang ternak hanyut, perkebunan dan kolam budidaya ikan tawar yang luasnya berhektar-hektar juga ikut terbawa longsor.
Urat nadi transportasi Trans Wamena-Kurima di Kabupaten Yahukimo putus total. Masyarakat Pobiatma yang terletak ditengah kawasan rawan bencana inipun terisolasi.
Ada kepedihan mendalam saat menatap nasib yang dialami Pobiatma. Kampung ini bukan sembarang pemukiman tradisional. Pada 2021, Pobiatma adalah kebanggaan bagi Kabupaten Jayawijaya. Ini adalah kampung terbaik nomor satu dari 328 kampung yang ada, dengan prestasi sebagai kampung paling mandiri dan bersih. Namun kini prestasi itu seolah terkubur bersama material batu dan tanah.
"Kami tidak bisa ke mana-mana. Jalan tertutup, rumah hancur, dan kami takut longsor susulan," kenang Deki Asso, warga setempat, dengan suara bergetar.
| Sisa atap rumah warga terlihat nyaris tenggelam di hamparan lumpur Pobiatma - ISTIMEWA |
Baginya dan 20 kepala keluarga lainnya yang selamat, gemuruh dari lereng Wupiahek malam itu adalah lonceng duka yang merusak 12 rumah dan membuat 100 jiwa harus mencari tempat aman untuk mengungsi.
Jalur Darat jadi Pilihan Merasakan Derita
Sehari sebelumnya, bantuan udara memang telah tiba. Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, bergerak cepat menerjunkan helikopter untuk membawa logistik awal. Namun, kehadiran fisik di atas tanah yang berlumpur adalah soal lain. Ia adalah soal rasa aman dan perhatian penuh kasih.
Itulah mengapa Polres Jayawijaya dan Brimob memilih jalur darat yang berisiko. Dipimpin langsung oleh AKBP Bimantara dan AKP Budi Setiawan Basrah, konvoi menembus material longsor yang masih labil. Mereka memilih jalur tersulit sebagai cara untuk melihat langsung medan yang dihadapi warga setiap hari.
| Personel gabungan Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi 4 mendistribusikan beras kepada warga Pobiatma di lokasi terdampak longsor - ISTIMEWA |
Pukul 06.27 WIT, kesunyian Pobiatma pecah oleh kedatangan rombongan seragam cokelat dan hitam. Reaksi warga adalah campuran antara haru dan lega. Di tengah situasi darurat, kehadiran aparat menjadi bukti bahwa mereka tidak dilupakan oleh negara.
Bukan sekadar seremonial, personil gabungan langsung bergerak taktis. Satu ton beras, air mineral, hingga nasi siap saji didistribusikan.
| Personel gabungan Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi 4 mendirikan tenda darurat di belakang Gereja Asotipo - ISTIMEWA |
Namun, aksi paling nyata terlihat saat para personil bahu-membahu mendirikan tenda darurat di belakang Gereja Asotipo. Tenda itu bukan sekadar kain terpal, ia adalah rumah baru bagi mereka yang rumahnya kini telah rata dengan tanah.
"Kami hadir untuk memberikan bantuan langsung. Semoga ini meringankan beban saudara-saudara kita," ujar AKBP Bimantara singkat di sela-sela peninjauan titik longsor.
Natal dalam Kesunyian
| Sisa atap rumah warga terlihat nyaris tenggelam di hamparan lumpur Pobiatma - ISTIMEWA |
Desember bagi masyarakat di Tanah Papua adalah bulan suci penuh sukacita. Namun, bagi warga Pobiatma, Natal 2025 adalah Natal yang sunyi. Tak ada perayaan mewah dan meriah di gedung gereja dan rumah masyarakat, yang ada hanyalah doa di bawah tenda darurat dan ancaman longsor susulan yang sempat kembali melanda tepat di pagi Natal, 25 Desember.
Mairon Asso, mewakili keluarga besar kampung, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Di tengah bencana yang melumpuhkan aktivitas ekonomi dan memutus akses jalan, kehadiran bantuan dari tanggal 8 hingga 10 Desember adalah "kado Natal" yang tak ternilai.
"Terima kasih kepada semua Keluarga Allah yang membantu kami. Tuhan Yesus memberkati," ucapnya lirih.
| Personel gabungan Polres Jayawijaya dan Brimob Kompi 4 mendirikan tenda darurat di belakang Gereja Asotipo - ISTIMEWA |
Kini, sementara alat berat mulai bekerja merancang ulang jalur jalan yang hilang, jejak sepatu lars polisi di lumpur Pobiatma menjadi saksi: bahwa di tengah bencana, nurani hati akan selalu menemukan jalannya.
Di kaki Gunung Wupiahek yang menjulang dibawah naungan Gunung Trikora, masyarakat tahu bahwa meski jalan terputus, harapan mereka tetap tersambung. (Laura Sobuber)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri